Merpati Bantah Sayap Kiri Pesawat Patah

Kompas.com - 05/12/2009, 07:33 WIB

KUPANG, KOMPAS.com — General Manager Corporate Secretary Merpati, Sukandi, membantah pemberitaan media bahwa sayap kiri pesawat jenis Fokker 100 yang mendarat darurat di Bandar Udara El Tari Kupang, Nusa Tengggara Timur, Rabu (2/12) malam patah.

"Sayap kiri pesawat hanya mengalami kerusakan kecil seperti lecet-lecet akibat sempat membentur tanah dan rumput. Pesawat waktu berhenti posisinya memang miring ke kiri, karena roda kiri tidak dapat keluar sempurna, sehingga posisi ban tidak bisa terkunci," kata Sukandi, Jumat (4/12), ketika dihubungi dari Ende, Flores.

Menurutnya, pesawat ketika bertolak dari Makassar juga dalam keadaan laik terbang. Sebagaimana diberitakan sebelumnya, pesawat Merpati Fokker 100 dengan nomor penerbangan MZ 5840 yang membawa 88 penumpang dan 6 kru pesawat dari Makassar mendarat darurat hari Rabu pukul 21.32 Wita tanpa roda kiri, di landasan pacu Bandara El Tari.

Pesawat akhirnya dapat berhenti di tengah-tengah landasan pacu dengan posisi miring ke kiri, dan bagian kepala pesawat keluar landasan, sedangkan badan pesawat melintang di tengah landasan. Roda bagian kiri pesawat itu mengalami gangguan hidrolik sehingga ban tidak keluar secara sempurna. Seluruh penumpang pesawat itu selamat.

Sukandi juga mengatakan bahwa pendaratan darurat pesawat tahun 1993 yang dilakukan oleh pilot Budiman Kertawijaya dan kopilot Zaenal Abidin itu telah memenuhi prosedur.

"Pendaratan darurat yang dilakukan sudah sesuai dengan prosedur, dan pendaratan pun dilakukan dengan baik, sehingga seluruh penumpang dan awak pesawat selamat. Pesawat juga tidak mengalami kerusakan parah," katanya.

Sementara ketika ditanyakan penyebab gangguan roda kiri pesawat itu, dia mengatakan bahwa sejauh ini belum dapat diketahui secara pasti karena tim teknis Merpati juga sedang melakukan perbaikan.

Menurut Sukandi, tim teknis Merpati akan berupaya memperbaiki bagian pesawat yang rusak, apabila tim teknis mengalami kesulitan, pihak Merpati akan berkoordinasi dengan perusahaan Fokker 100.

Sementara Mursidin dari Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) di Kupang mengatakan, pihaknya akan melibatkan ahli untuk mendalami lebih detail penyebab insiden pendaratan darurat Merpati tersebut.

Di sisi lain, status Bandara El Tari  pascapendaratan pesawat Fokker 100 Merpati itu sudah dibuka kembali pada hari Kamis (3/12) pukul 20.54 Wita.

Rencana semula pengelola bandara menutup bandara hingga Jumat pukul 07.00 sejak kejadian Rabu malam. Namun, berhubung pesawat pada pukul 20.10, Kamis, sudah dapat dievakuasi dari landasan pacu menuju apron, maka pada pukul 20.54 bandara dinyatakan dibuka kembali.

"Bandara dibuka setelah dilakukan perbaikan dan pembersihan badan landasan, karena waktu kejadian sempat terkena lumpur dan rumput-rumput yang tercabut. Kondisi landasan tentu licin, maka lumpur harus benar-benar dibersihkan agar jangan menimbulkan celaka baru bagi pesawat lain," kata Duty Manager Bandar Udara Eltari Kupang, Zaenal Ismael.

Selain itu, akibat kejadian tersebut, pengelola bandara juga telah mengganti dua lampu landasan yang pecah.

Selang beberapa jam setelah bandara dibuka, pada Jumat pukul 00.07 pesawat Fokker 100 Merpati tanpa penumpang dari Surabaya mendarat di Bandara Eltari. Pesawat itu sebagai pesawat pengganti Fokker 100 dengan nomor penerbangan MZ 5840 yang mendarat darurat.

Pesawat tersebut dipersiapkan untuk melayani penumpang di kawasan NTT, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Makassar. Pesawat Merpati itu kemudian lepas landas paling awal dari Bandara El Tari, Jumat, pukul 05.30 menuju Maumere, Kabupaten Sikka, Flores.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau