KUPANG, KOMPAS.com — General Manager Corporate Secretary Merpati, Sukandi, membantah pemberitaan media bahwa sayap kiri pesawat jenis Fokker 100 yang mendarat darurat di Bandar Udara El Tari Kupang, Nusa Tengggara Timur, Rabu (2/12) malam patah.
"Sayap kiri pesawat hanya mengalami kerusakan kecil seperti lecet-lecet akibat sempat membentur tanah dan rumput. Pesawat waktu berhenti posisinya memang miring ke kiri, karena roda kiri tidak dapat keluar sempurna, sehingga posisi ban tidak bisa terkunci," kata Sukandi, Jumat (4/12), ketika dihubungi dari Ende, Flores.
Menurutnya, pesawat ketika bertolak dari Makassar juga dalam keadaan laik terbang. Sebagaimana diberitakan sebelumnya, pesawat Merpati Fokker 100 dengan nomor penerbangan MZ 5840 yang membawa 88 penumpang dan 6 kru pesawat dari Makassar mendarat darurat hari Rabu pukul 21.32 Wita tanpa roda kiri, di landasan pacu Bandara El Tari.
Pesawat akhirnya dapat berhenti di tengah-tengah landasan pacu dengan posisi miring ke kiri, dan bagian kepala pesawat keluar landasan, sedangkan badan pesawat melintang di tengah landasan. Roda bagian kiri pesawat itu mengalami gangguan hidrolik sehingga ban tidak keluar secara sempurna. Seluruh penumpang pesawat itu selamat.
Sukandi juga mengatakan bahwa pendaratan darurat pesawat tahun 1993 yang dilakukan oleh pilot Budiman Kertawijaya dan kopilot Zaenal Abidin itu telah memenuhi prosedur.
"Pendaratan darurat yang dilakukan sudah sesuai dengan prosedur, dan pendaratan pun dilakukan dengan baik, sehingga seluruh penumpang dan awak pesawat selamat. Pesawat juga tidak mengalami kerusakan parah," katanya.
Sementara ketika ditanyakan penyebab gangguan roda kiri pesawat itu, dia mengatakan bahwa sejauh ini belum dapat diketahui secara pasti karena tim teknis Merpati juga sedang melakukan perbaikan.
Menurut Sukandi, tim teknis Merpati akan berupaya memperbaiki bagian pesawat yang rusak, apabila tim teknis mengalami kesulitan, pihak Merpati akan berkoordinasi dengan perusahaan Fokker 100.
Sementara Mursidin dari Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) di Kupang mengatakan, pihaknya akan melibatkan ahli untuk mendalami lebih detail penyebab insiden pendaratan darurat Merpati tersebut.
Di sisi lain, status Bandara El Tari pascapendaratan pesawat Fokker 100 Merpati itu sudah dibuka kembali pada hari Kamis (3/12) pukul 20.54 Wita.
Rencana semula pengelola bandara menutup bandara hingga Jumat pukul 07.00 sejak kejadian Rabu malam. Namun, berhubung pesawat pada pukul 20.10, Kamis, sudah dapat dievakuasi dari landasan pacu menuju apron, maka pada pukul 20.54 bandara dinyatakan dibuka kembali.
"Bandara dibuka setelah dilakukan perbaikan dan pembersihan badan landasan, karena waktu kejadian sempat terkena lumpur dan rumput-rumput yang tercabut. Kondisi landasan tentu licin, maka lumpur harus benar-benar dibersihkan agar jangan menimbulkan celaka baru bagi pesawat lain," kata Duty Manager Bandar Udara Eltari Kupang, Zaenal Ismael.
Selain itu, akibat kejadian tersebut, pengelola bandara juga telah mengganti dua lampu landasan yang pecah.
Selang beberapa jam setelah bandara dibuka, pada Jumat pukul 00.07 pesawat Fokker 100 Merpati tanpa penumpang dari Surabaya mendarat di Bandara Eltari. Pesawat itu sebagai pesawat pengganti Fokker 100 dengan nomor penerbangan MZ 5840 yang mendarat darurat.
Pesawat tersebut dipersiapkan untuk melayani penumpang di kawasan NTT, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Makassar. Pesawat Merpati itu kemudian lepas landas paling awal dari Bandara El Tari, Jumat, pukul 05.30 menuju Maumere, Kabupaten Sikka, Flores.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang