Soal Nepal, AS Prihatin

Kompas.com - 05/12/2009, 19:01 WIB

KATHMANDU, KOMPAS.com - Amerika Serikat menyuarakan keprihatinan mendalam atas macetnya proses perdamaian di Nepal, tiga tahun setelah berakhirnya perang sipil satu dekade, menurut pernyataan dari Kedutaan Besar AS, Sabtu (5/12).
   
Kuasa Usaha Kedutaan Besar AS Randy Berry mengemukakan "keprihatinan mendalam mengenai kebuntuan politik di Nepal yang terus berlanjut," dalam sebuah pertemuan dengan Perdana Menteri Nepal Madhav Kumar Nepal, Jumat, demikian menurut pernyataan itu.
   
Konflik antara gerilyawan Maois dan negara berakhir pada 20 November 2006, dengan sebuah kesepakatan perdamaian yang disusul dengan pemilihan umum tahun lalu yang dimenangkan oleh gerilyawan Maois dengan suara mayoritas.
   
Tapi, pemerintahan yang dipimpin kubu Maois jatuh pada Mei setelah presiden membatalkan upaya mereka memecat pemimpin militer. Sejak saat itu proses perdamaian macet akibat kubu Maois menutup proses di parlemen dan melakukan unjuk rasa di jalanan. Mereka meminta permintaan maaf atas apa yang mereka sebut sebagai sebuah keputusan presiden yang tidak berdasar hukum.
   
Pada pertemuan Jumat dengan perdana menteri itu, Berry mendesak para pemimpin politik Nepal untuk "bekerja mewujudkan konsensus secara positif dan membangun."
   
Pertemuan antara diplomat AS dengan PM Nepal itu dilakukan setelah utusan khusus internasional bagi Nepal bulan lalu mengatakan bahwa mereka "sangat prihatin" dengan nasib proses perdamaian.
   
"Kami prihatin bahwa proses penerapan kesepakatan telah macet," menurut pernyataan bersama dari 13 negara, termasuk Amerika Serikat dan Jepang, serta Komisi Eropa.
   
Para diplomat asing mencatat bahwa para pembuat undang-undang jauh tertinggal dari jadwal yang telah ditetapkan untuk menciptakan undang-undang baru, yang seharusnya selesai pada 28 Mei ketika undang-undang sementara berakhir.
   
Proses rehabilitasi dan integrasi militer mantan gerilyawan juga masih berlangsung, katanya.
   
Diplomat AS itu, Jumat, juga menyampaikan keprihatinannya atas aksi kelompok Maois baru-baru ini antara lain menghalangi kegiatan parlemen, merencanakan mengumumkan negara otonom dan melanjutkan upayanya menyita lahan dan panen di Nepal.
   
Sikap Maois tidak konsisten dengan komitmen Maois pada proses perdamaian, penegakan hukum dan demokrasi, kata Berry.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau