Film Indonesia dan Standar Internasional

Kompas.com - 06/12/2009, 05:19 WIB
DAHONO FITRIANTO

KOMPAS.com - Film Sang Pemimpi diputar sebagai film pembuka Jakarta International Film Festival ke-11 di Jakarta, Jumat (4/12). Film karya Riri Riza itu merupakan film Indonesia pertama yang terpilih sebagai film pembuka JiFFest sejak festival tersebut diselenggarakan pertama kali pada tahun 1999.

Film sekuel Laskar Pelangi ini berkisah tentang remaja dari keluarga marjinal yang mengejar mimpi untuk bersekolah setinggi (dan sejauh) mungkin. Seperti pendahulunya, film ini mengandung petuah, nasihat tentang hidup, khususnya bagi remaja dalam meraih cita-cita.

Meski belum tentu sukses serupa pendahulunya itu, tampilnya Sang Pemimpi pada malam pembukaan menunjukkan JiFFest kian memberi tempat istimewa bagi karya anak negeri.

Selain memilih sebagai film pembuka, JiFFest juga makin memperlihatkan perhatian khusus kepada film nasional dalam ajang kompetisi film cerita panjang, yaitu Indonesian Feature Film Competition (IFFC).

Kualitas

Sejak pertama kali diadakan pada JiFFest ke-8 tahun 2006, IFFC makin kukuh menjadi barometer kualitas film Indonesia setiap tahun. Terutama tahun ini, terlihat usaha untuk menyeleksi hanya film-film yang dianggap memenuhi standar kualitas, bukan sekadar film yang sukses meraih penonton terbanyak.

Tercatat 15 film Indonesia, yang diedarkan pada periode Oktober 2008-September 2009, masuk dalam IFFC 2009. Seleksi dilakukan bekerja sama dengan Rumah Film Indonesia (www.rumahfilm.org).

Hampir semua film itu mendapat sambutan positif dari kritikus film, mencatat prestasi di berbagai festival luar negeri, atau paling tidak memperlihatkan usaha untuk mencari kebaruan di tengah keseragaman tema dan cara penggarapan film dalam industri film nasional dewasa ini.

Beberapa film unggulan tersebut antara lain Babi Buta yang Ingin Terbang (karya sutradara Edwin), Merantau (Gareth Evans), King (Ari Sihasale), cin(T)a (Sammaria Simanjuntak), Get Married 2 (Hanung Bramantyo), Under The Tree (Garin Nugroho), Garuda di Dadaku (Ifa Isfansyah), dan Pintu Terlarang (Joko Anwar).

Keberadaan IFFC dalam JiFFest ini menjadi alternatif penting sekaligus bisa dianggap sebagai ”ancaman” terhadap ajang penghargaan film nasional lainnya, yaitu Festival Film Indonesia (FFI). Selain masih terseok-seok dan belum menemukan formula penyelenggaraan yang tepat hingga kini, FFI juga masih diwarnai boikot oleh Masyarakat Film Indonesia (MFI).

Jika kondisi boikot ini dibiarkan terus, lama-lama keberadaan FFI dan kredibilitas Piala Citra, yang pernah menjadi lambang supremasi dunia film Indonesia, bisa terancam. Harus diakui, film-film buatan produser dan atau sutradara yang tergabung dalam MFI, misalnya Mira Lesmana atau Nia Dinata, termasuk di antara yang terbaik dari industri perfilman nasional dalam 10 tahun terakhir ini. Apa artinya FFI dan Piala Citra jika film-film terbaik ini bahkan tidak masuk dalam daftar film yang akan diseleksi?

Sementara seleksi film di IFFC, yang tidak terbatas pada film yang didaftarkan saja, membuat ajang kompetisi ini lebih terbuka dan adil bagi semua film. Bukan tidak mungkin, suatu saat nanti predikat Film Terbaik dan Sutradara Terbaik yang diberikan IFFC-JiFFest akan menggeser gengsi Piala Citra.

Tujuan beda

Meski demikian, pihak JiFFest menyangkal bahwa ajang IFFC bermaksud untuk menandingi, apalagi mematikan FFI.

”Tak bisa dimungkiri, kredibilitas FFI hilang sejak memilih Ekskul sebagai Film Terbaik pada FFI 2006. Sampai saat ini kredibilitas itu belum pulih. Tetapi ajang IFFC di JiFFest tidak bermaksud untuk menggantikan FFI. Kami memiliki tujuan yang berbeda,” ungkap Eric Sasono, Direktur Rumah Film Indonesia dan anggota Dewan Pengarah Yayasan Masyarakat Mandiri Film Indonesia, penyelenggara JiFFest.

Menurut Eric, salah satu kriteria seleksi dalam IFFC adalah platform internasional atau kelayakan sebuah film Indonesia di ajang perfilman internasional, baik dari segi pemilihan tema, penceritaan, maupun gaya.

Untuk mencari standar internasional tersebut, ajang IFFC sejak awal selalu melibatkan dewan juri internasional. Tahun ini Dewan Juri IFFC beranggotakan Brynjar Bjerkem (Norwegia), Laura Coppens (Jerman), dan Thomas Chia (Singapura).

”Idealnya ada lima juri. Kalau ada tambahan dana dari sponsor, kami akan menambah unsur aktor ke dewan juri sehingga bisa membuat kategori (penghargaan) aktor dan aktris terbaik,” tutur Direktur JiFFest 2009 Lalu Roisamri.

Bergemingkah FFI? (IND)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau