GENERAL SANTOS, KOMPAS.com - Demikian dikatakan juru bicara Angkatan Darat Filipina, Kolonel Romeo Brawner Jr, Sabtu di Manila, sebagaimana ditulis Pemberlakuan darurat militer terjadi karena keluarga Ampatuan didukung oleh sejumlah oknum kepolisian dan tentara setempat. Ratusan pendukung klan Ampatuan juga menjagai anggota keluarga klan dari penangkapan. Di rumah keluarga klan Ampatuan di Shariff Aquak, dua hari sebelumnya ditemukan tumpukan senjata dan 140 kotak amunisi ukuran 5,56 milimeter, sebagaimana ditulis dalam situs GMANews TV. Keluarga ini dikenal brutal dan tak segan-segan menghabisi musuh keluarga. Kepala Staf Angkatan Darat Filipina Jenderal Victor Ibrado langsung turun tangan menangani kasus kejahatan klan Ampatuan. Para penyidik mengaitkan Ampatuan Senior dengan pembunuhan terhadap 57 orang pada 23 November lalu atas rombongan keluarga Esmael Mangudadatu, yang pada umumnya wanita dan sekitar 18 orang adalah wartawan yang turut terbunuh. Rombongan itu dalam perjalanan menuju Shariff Aguak, ibu kota Maguindanao, untuk mendaftarkan Mangudadatu sebagai calon gubernur pada pemilu Mei 2010. Mangudadatu sengaja mengutus keluarga dan rombongan karena sudah menerima ancaman pembunuhan jika mencalonkan diri sebagai gubernur di wilayah yang sudah sejak tahun 2001 dikuasai klan Ampatuan. Andal Ampatuan Junior, putra Ampatuan Senior, yang juga Wali Kota Datu Unsay, turut membantai keluarga Mangudadatu. Dia telah dikenai 25 tuduhan. Tiga putra Ampatuan Senior juga turut ditangkap hari Sabtu. Mereka adalah Zaldy Ampatuan, Gubernur Kawasan Otonomi Muslim Mindanao (ARMM); Akhmad Datu Ampatuan, Wakil Gubernur Maguindanao; dan Anwar Ampatuan, Wali Kota Shariff Aguak. Sejumlah pendukung klan Ampatuan, yang terlibat pembantaian, juga ditahan polisi. Penahanan dilakukan setelah penyerbuan tentara dan polisi ke rumah klan Ampatuan. Para pengawal keluarga juga bertekuk lutut saat penyerbuan. Akibat pemberlakuan darurat militer, sejumlah petani melarikan diri dari rumah-rumah mereka dengan membawa bekal. ”Kami telah diperintahkan keluarga kami untuk segera mengungsi untuk sementara waktu,” kata seorang warga yang melarikan diri dari Shariff Aguak. Angkatan Darat Filipina meyakinkan warga agar tidak perlu takut karena tidak akan ada penangkapan secara serampangan. Namun, warga Filipina selatan sudah trauma dengan beberapa kali kekacauan akibat serbuan mendadak oleh militer. Filipina selatan dikuasai klan Ampatuan, yang amat ditakuti warga setempat karena kebrutalan mereka.