Gubernur "Pembunuh" Ditahan

Kompas.com - 06/12/2009, 05:29 WIB

GENERAL SANTOS, KOMPAS.com - Presiden Filipina Gloria Macapagal-Arroyo, Jumat (4/12), menyatakan Filipina selatan dalam keadaan darurat militer. Aparat keamanan hari Sabtu menangkap Gubernur Maguindanao Andal Ampatuan Senior.

Demikian dikatakan juru bicara Angkatan Darat Filipina, Kolonel Romeo Brawner Jr, Sabtu di Manila, sebagaimana ditulis The Manila Bulletin. Ampatuan adalah sekutu politik Arroyo, yang tergabung dalam koalisi Lakasa Kampi-CMD, koalisi partai berkuasa di Filipina.

Pemberlakuan darurat militer terjadi karena keluarga Ampatuan didukung oleh sejumlah oknum kepolisian dan tentara setempat. Ratusan pendukung klan Ampatuan juga menjagai anggota keluarga klan dari penangkapan.

Di rumah keluarga klan Ampatuan di Shariff Aquak, dua hari sebelumnya ditemukan tumpukan senjata dan 140 kotak amunisi ukuran 5,56 milimeter, sebagaimana ditulis dalam situs GMANews TV. Keluarga ini dikenal brutal dan tak segan-segan menghabisi musuh keluarga.

Kepala Staf Angkatan Darat Filipina Jenderal Victor Ibrado langsung turun tangan menangani kasus kejahatan klan Ampatuan.

Para penyidik mengaitkan Ampatuan Senior dengan pembunuhan terhadap 57 orang pada 23 November lalu atas rombongan keluarga Esmael Mangudadatu, yang pada umumnya wanita dan sekitar 18 orang adalah wartawan yang turut terbunuh.

Rombongan itu dalam perjalanan menuju Shariff Aguak, ibu kota Maguindanao, untuk mendaftarkan Mangudadatu sebagai calon gubernur pada pemilu Mei 2010. Mangudadatu sengaja mengutus keluarga dan rombongan karena sudah menerima ancaman pembunuhan jika mencalonkan diri sebagai gubernur di wilayah yang sudah sejak tahun 2001 dikuasai klan Ampatuan.

Andal Ampatuan Junior, putra Ampatuan Senior, yang juga Wali Kota Datu Unsay, turut membantai keluarga Mangudadatu. Dia telah dikenai 25 tuduhan.

Tiga putra ditangkap

Tiga putra Ampatuan Senior juga turut ditangkap hari Sabtu. Mereka adalah Zaldy Ampatuan, Gubernur Kawasan Otonomi Muslim Mindanao (ARMM); Akhmad Datu Ampatuan, Wakil Gubernur Maguindanao; dan Anwar Ampatuan, Wali Kota Shariff Aguak. Sejumlah pendukung klan Ampatuan, yang terlibat pembantaian, juga ditahan polisi.

Penahanan dilakukan setelah penyerbuan tentara dan polisi ke rumah klan Ampatuan. Para pengawal keluarga juga bertekuk lutut saat penyerbuan.

Akibat pemberlakuan darurat militer, sejumlah petani melarikan diri dari rumah-rumah mereka dengan membawa bekal. ”Kami telah diperintahkan keluarga kami untuk segera mengungsi untuk sementara waktu,” kata seorang warga yang melarikan diri dari Shariff Aguak.

Angkatan Darat Filipina meyakinkan warga agar tidak perlu takut karena tidak akan ada penangkapan secara serampangan. Namun, warga Filipina selatan sudah trauma dengan beberapa kali kekacauan akibat serbuan mendadak oleh militer.

Filipina selatan dikuasai klan Ampatuan, yang amat ditakuti warga setempat karena kebrutalan mereka. (AP/AFP/REUTERS/MON)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau