Mustafa: Bitung di Ambang Pelabuhan Internasional

Kompas.com - 07/12/2009, 11:23 WIB

MANADO, KOMPAS.com — Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara atau BUMN Mustafa Abubakar mengatakan, Pelabuhan Bitung di Sulawesi Utara sudah di ambang batas menjadi Pelabuhan Internasional. Pelabuhan itu memang diandalkan menjadi gerbang paling utara Indonesia, berbatasan dengan Samudra Pasifik.

"Bila ingin agar Bitung berkembang, maka daerah hinterland (penyangga di pedalaman) harus dibangkitkan. Tujuannya supaya Bitung ramai dan ada komoditas yang dapat dikapalkan," kata Mustafa, Senin (7/12), dalam Kongres XVIII Persatuan Insinyur Indonesia di Manado.

Mustafa menyarankan agar upaya Thailand untuk mengembangkan industri kelautan diikuti di Bitung dan sekitarnya. Jadi, produk perikanan kelak dapat benar-benar menjadi produk unggulan, yang dikapalkan dari Bitung.

Persoalannya, ada keterbatasan energi Sulawesi Utara. Hal itu tentu saja menghambat tumbuhnya industri, misalnya menghambat pembangunan cold storage untuk penyimpanan ikan, ataupun industri pengalengan ikan.

Hotel Novotel Grand Kawanua, tempat Kompas menginap pun, sering kali mengalami mati lampu. Demikian pula Kota Manado di malam hari. Kota itu kini tak lagi semarak karena lampu jalan sering kali dimatikan karena keterbatasan daya listrik.     

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau