Polisi Tahan Dua Tokoh Oposisi Sudan

Kompas.com - 07/12/2009, 15:27 WIB

KHARTOUM, KOMPAS.com - Polisi antihuru-hara menahan dua anggota senior partai oposisi utama Sudan selatan dan para pendukung mereka yang melakukan unjuk rasa dekat gedung parlemen  negara itu, Senin (7/12). Unjuk rasa itu dianggap melanggar larangan resmi, kata seorang saksi mata dan para pejabat.
   
Yasir Arman, anggota senior Gerakan Pembebasan Rakyat Sudan (SPLM) bentrok dengan polisi di luar kompleks Majelis Nasional dan diusir ke satu kantor polisi, kata seorang saksi mata. Para pejabat mengatakan Pagan Amum, Sekjen SPLM, juga ditahan.
   
Sekitar 25 pendukung SPLM dan oposisi berkumpul dekat gedung parlemen Senin pagi dan dikepung polisi bersenjatakan tongkat dan perisai-perisai.
   
Para personil polisi memukul para pengunjuk rasa dan penonton dengan tongkat-tongkat sementara Arman diusir dengan meneriakkan yel-yel "kemerdekaan".
   
Khartoum umumnya tenang, Senin setelah pihak aparat pemerintah mengumumkan hari libur publik yang menurut mereka untuk mendorong rakyat ikut serta dalam pendaftaran pemilih saat terakhir menjelang pemilu.
   
SPLM  dan partai-partai oposisi menyerukan unjuk rasa di luar gedung parlemen untuk menuntut reformasi yang demokratis  dalam satu tantangan yang jarang terjadi terhadap presiden. Pihak berwenang Sudan, Minggu mengumumkan unjuk rasa dilarang.
   
Pada Minggu, seorang pejabat partai oposisi Umma mengatakan larangan itu menunjukkan Partai Kongres Nasional (NCP)yang dominan di Sudan utara tidak serius mengizinkan suara-suara yang berbeda ikut serta dalam pemilu, yang menurut rencana akan diselenggarakan April 2010.
   
Negara penghasil minyak itu menurut rencana akan menyelenggarakan pemilu multi partai pertama dalam 24 tahun berdasarkan  ketentuan-ketentuan perjanjian perdamaian yang mengakhiri perang saudara 20 tahun antara Sudan utara dan selatan dan membentuk satu pemerintah koalisi SPLM-NCP.
   
Hubungan antara dua bekas musuh itu tetap tegang dan kedua pihak saling tuduh tidak melaksanakan perjanjian itu, yang juga menjamin  wilayah selatan untuk menyelenggarakan referendum mengenai kemerdekaan  Januari 2011.
   
Dua juta orang tewas dan empat juga meninggalkan rumah-rumah mereka antara tahun 1983 dan 2005 sementara Sudan utara dan selatan bertempur menyangkut perbedaan ideologi, etnik dan agama. Sudan utara sebagian besar penduduknya beragama Islam sementara Sudan selatan sebagian besar beragama Kristen dan para pengikut kepercayaan tradisional.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau