KHARTOUM, KOMPAS.com - Polisi antihuru-hara menahan dua anggota senior partai oposisi utama Sudan selatan dan para pendukung mereka yang melakukan unjuk rasa dekat gedung parlemen negara itu, Senin (7/12). Unjuk rasa itu dianggap melanggar larangan resmi, kata seorang saksi mata dan para pejabat.
Yasir Arman, anggota senior Gerakan Pembebasan Rakyat Sudan (SPLM) bentrok dengan polisi di luar kompleks Majelis Nasional dan diusir ke satu kantor polisi, kata seorang saksi mata. Para pejabat mengatakan Pagan Amum, Sekjen SPLM, juga ditahan.
Sekitar 25 pendukung SPLM dan oposisi berkumpul dekat gedung parlemen Senin pagi dan dikepung polisi bersenjatakan tongkat dan perisai-perisai.
Para personil polisi memukul para pengunjuk rasa dan penonton dengan tongkat-tongkat sementara Arman diusir dengan meneriakkan yel-yel "kemerdekaan".
Khartoum umumnya tenang, Senin setelah pihak aparat pemerintah mengumumkan hari libur publik yang menurut mereka untuk mendorong rakyat ikut serta dalam pendaftaran pemilih saat terakhir menjelang pemilu.
SPLM dan partai-partai oposisi menyerukan unjuk rasa di luar gedung parlemen untuk menuntut reformasi yang demokratis dalam satu tantangan yang jarang terjadi terhadap presiden. Pihak berwenang Sudan, Minggu mengumumkan unjuk rasa dilarang.
Pada Minggu, seorang pejabat partai oposisi Umma mengatakan larangan itu menunjukkan Partai Kongres Nasional (NCP)yang dominan di Sudan utara tidak serius mengizinkan suara-suara yang berbeda ikut serta dalam pemilu, yang menurut rencana akan diselenggarakan April 2010.
Negara penghasil minyak itu menurut rencana akan menyelenggarakan pemilu multi partai pertama dalam 24 tahun berdasarkan ketentuan-ketentuan perjanjian perdamaian yang mengakhiri perang saudara 20 tahun antara Sudan utara dan selatan dan membentuk satu pemerintah koalisi SPLM-NCP.
Hubungan antara dua bekas musuh itu tetap tegang dan kedua pihak saling tuduh tidak melaksanakan perjanjian itu, yang juga menjamin wilayah selatan untuk menyelenggarakan referendum mengenai kemerdekaan Januari 2011.
Dua juta orang tewas dan empat juga meninggalkan rumah-rumah mereka antara tahun 1983 dan 2005 sementara Sudan utara dan selatan bertempur menyangkut perbedaan ideologi, etnik dan agama. Sudan utara sebagian besar penduduknya beragama Islam sementara Sudan selatan sebagian besar beragama Kristen dan para pengikut kepercayaan tradisional.