Mengapa Si Tubuh Apel Harus Berdiet?

Kompas.com - 07/12/2009, 17:42 WIB

KOMPAS.com - Di dalam tubuh kita, ada dua jenis lemak. Pertama, lemak yang menempel di bawah kulit yang kemudian lebih sering kita sebut selulit. Lemak-lemak yang ada di garis pinggang, panggul, dan paha yang kemudian membuat kita disebut pemilik tubuh pir, juga masuk dalam kategori lemak di bawah kulit.

Kedua adalah lemak yang menumpuk di perut bagian dalam dan organ internal lainnya. Lemak-lemak menempel di lapisan otot yang kemudian membuat tubuh bagian tengah kita bundar seperti apel.

Sebenarnya kedua lemak tersebut kita butuhkan untuk sumber energi dan melindungi organ dalam tubuh kita. Masalah muncul ketika, kedua lemak tersebut menumpuk secara berlebihan. Khususnya lemak-lemak yang ada di sekitar perut. Mengapa?

* Mengingat posisi lemaknya yang ada di organ dalam, maka bisa menimbulkan risiko pada organ-organ seperti pankreas yang bertanggung jawab memproduksi insulin serta mengatur regulasi gula dalam darah. Dari sinilah risiko diabetes muncul.

* Tidak hanya pankreas, organ hati kita juga menjadi lebih cepat memproduksi kolesterol jahat alias LDL. Kolesterol ini bisa menjadi plak bagi pembuluh darah hingga berisiko menimbulkan serangan jantung dan stroke.

* Banyaknya timbunan lemak membuat otak memproduksi lebih banyak hormon neuropeptide Y (NPY) yang membuat nafsu makan kita muncul lebih sering.

Maka tidak ada alasan untuk tetap mempertahankan bentuk tubuh apel. Untuk membuang lemak yang menempel di bagian tengah tubuh, khususnya perut kita perlu berkomitmen menerapkan konsumsi makanan yang sehat. Komitmen ini juga harus dilengkapi dengan jadwal olahraga yang rutin. Banyak penelitian telah mengungkapkan, ketika lemak perut luruh maka risiko produksi insulin berlebih, LDL yang tinggi, dan NPY akan berkurang.

Tidak hanya itu, kita akan menerima bonus dari keberhasilan membuang lemak perut. Fleksibilitas tubuh kita lebih baik dan kita akan selalu memiliki emosi yang lebih stabil karena kualitas tidur kita lebih baik. Jadi bernazarlah dari sekarang untuk “putus hubungan” dengan lemak perut.

(Siagian Priska/Prevention Indonesia)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau