Presiden Jangan Panik

Kompas.com - 08/12/2009, 05:47 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tidak perlu panik menghadapi unjuk rasa masyarakat pada Hari Antikorupsi Sedunia, 9 Desember besok. Unjuk rasa digelar bukan untuk menurunkan Presiden, melainkan bertujuan untuk membersihkan Indonesia dari korupsi.

Imbauan agar presiden tidak panik disampaikan Ketua Umum Komite Bangkit Indonesia Rizal Ramli saat dikunjungi sejumlah tokoh muda yang tergabung dalam Kabinet Indonesia Muda di Rumah Perubahan, Jalan Panglima Polim, Jakarta, Senin (7/12).

”Tidak ada yang perlu dipanikkan. Presiden seharusnya tenang-tenang saja, tak perlu terlalu khawatir. Kalau bisa malah ikut turun, berunjuk rasa atau berdialog di hari antikorupsi, pasti rakyat akan senang,” kata Rizal.

Kekhawatiran Presiden akan adanya kekacauan pada unjuk rasa terlalu berlebihan. Rizal menengarai, informasi akan terjadinya kerusuhan itu merupakan tindakan kontra intelijen. Tindakan itu biasanya dilancarkan untuk memudahkan penangkapan terhadap orang-orang tertentu

Apalagi, lanjut dia, akhir-akhir ini beredar hasil dokumen analisis intelijen tentang adanya pertemuan sejumlah tokoh di Hotel Dharmawangsa. ”Seolah-olah sejumlah tokoh bertemu di sana untuk menjatuhkan SBY (Susilo Bambang Yudhoyono), tapi itu tidak benar dan sudah dibantah,” tuturnya.

Dikhawatirkan, dokumen yang beredar itu justru berasal dari orang-orang di sekitar pemerintahan. Oleh karena itu, para pejabat di sekitar Presiden diminta untuk memberikan informasi yang jelas dan benar. Jangan sampai memberikan informasi yang menyesatkan kepada Presiden, yang membuat rakyat cemas.

Dalam kesempatan itu, Menteri Dalam Negeri Kabinet Indonesia Muda Boni Hargens menilai tanggapan Presiden terhadap rencana unjuk rasa kurang bijaksana dan cenderung provokatif. Seharusnya Presiden mendukung karena aksi dilakukan untuk memperingati hari korupsi internasional.

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, yang juga penasihat Gerakan Indonesia Bersih, Din Syamsuddin menegaskan, aksi damai 9 Desember digelar untuk membersihkan Indonesia dari korupsi. ”Aksi damai itu untuk membersihkan bangsa dari korupsi,” katanya.

Din mengajak seluruh masyarakat untuk turut dalam unjuk rasa di Silang Monas, besok. ”Bagi yang antikorupsi mari datang dan bagi yang prokorupsi jangan menghalangi,” ujarnya.

Tidak khawatir

Dalam jumpa pers seusai menggelar rapat koordinasi tertutup, yang diikuti para menteri dan kepala lembaga negara nondepartemen, yang ada di bawah koordinasi kementeriannya, kemarin, Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Marsekal (Purn) Djoko Suyanto menegaskan, Presiden tidak pernah khawatir atas rencana aksi besar peringatan Hari Antikorupsi Sedunia pada 9 Desember.

Ia mengatakan, tidak ada peningkatan status keamanan dalam negeri menjadi Siaga I. Dia menambahkan, tidak ada penambahan kekuatan personel kepolisian untuk pengamanan secara khusus pada hari tersebut, sementara aparat TNI hanya akan bersiap-siap di tempat mereka masing-masing.

Menurut Djoko, pemerintah hanya mengingatkan semua pihak berhati-hati, setiap aksi unjuk rasa massa besar biasanya ada pihak tertentu yang mencoba surfing (berselancar) memanfaatkan untuk mengacaukan situasi dan keamanan.

Menurut Djoko, pemerintah akan memberikan ruang dan peluang bagi masyarakat sipil untuk menyampaikan pendapat sepanjang mengikuti aturan main.

Seusai memberikan pengarahan pada Apel Danrem-Dandim Terpusat 2009, Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) Jenderal George Toisutta menyatakan, Angkatan Darat siaga membantu kepolisian mengamankan demonstrasi tanggal 9 Desember 2009. ”Tetapi, sampai sekarang tidak ada persiapan khusus. Polri minta langsung ke Panglima TNI. Kami di AD tunggu perintah dari Panglima TNI saja,” katanya.(aik/edn/nta/dwa)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau