"Panas" di Tengah Suhu Hampir Nol

Kompas.com - 08/12/2009, 08:38 WIB

KOPENHAGEN, KOMPAS.com — Bagi warga Kopenhagen, Denmark—tuan rumah Konferensi Perubahan Iklim 2009—suhu hampir 0 derajat adalah agenda rutin tahunan. Sudah biasa.

Meski dingin menerpa, Natal tanpa salju telah tiga tahun mereka lewati. Itulah cerita beberapa warga Kopenhagen yang ditemui. Mereka sedang mengalami dampak perubahan iklim.

Sejak 7 Desember 2009, konferensi perubahan iklim diadakan. Lebih dari 22.000 peserta dari seluruh dunia sudah menyatakan niatnya hadir. Sebanyak 100 kepala negara lebih, termasuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, siap bernegosiasi. Prediksi alotnya pembahasan, khususnya pada hari terakhir, telah mendorong Presiden AS Barack Obama akhirnya datang 18 Desember dari jadwal semula 9 Desember.

Negara-negara berkembang akan mendesak negara-negara maju (Annex I) mengumumkan besarnya penurunan emisi gas rumah kacanya (GRK). Sesuai data ilmiah, yaitu 25-40 persen tahun 2020 dari level emisi tahun 1990, agar temperatur global tidak naik 2 derajat.

Meskipun di Bali—pada Konferensi Perubahan Iklim PBB 2007—negara-negara maju telah berkomitmen, dalam perkembangannya mereka enggan. Mereka meminta negara berkembang ekonomi maju yang emisinya juga besar, seperti China dan India, juga berkomitmen. Indonesia juga disebut-sebut karena aktivitas konversi lahan gambut dan hutan alam.

Pekan lalu Denmark mengeluarkan Danish Proposal, yang di antaranya berisi usulan agar negara berkembang turut menurunkan emisinya dan mengarah kepada ”pembunuhan” Protokol Kyoto, yang periode pertamanya baru berakhir 2012.

Kelompok negara berkembang G-77 (termasuk Indonesia) plus China menolak. ”Jejak sejarah emisi adalah industri negara maju. Mereka yang wajib menurunkan,” kata Ketua Pokja Pasca-Kyoto 2012 Delegasi Indonesia Tri Tharyat. Indonesia akan mendesak komitmen sesuai Bali Action Plan, hasil di Bali.

Sementara negara maju sebagai pemilik sumber dana dan teknologi terus bermanuver, organisasi masyarakat menyerukan, ”Jangan hanya bicara uang, (materi negosiasi) dan amandemen. Namun, bicaralah tentang kehidupan kita, orang-orang di tempat lain, anak-anak, dan cucu kita,” kata Kim Carstensen dari Global Climate Initiative WWF.

Kelompok ahli perubahan iklim UNFCCC (IPCC) memprediksikan dampak katastrofik perubahan iklim. Mulai dari kekeringan di Afrika, negara-negara kecil di tengah samudra yang akan tenggelam, hingga kegagalan panen di Asia, Eropa, dan Amerika. Puluhan hingga ratusan juta jiwa berada di ambang kekeringan air, banjir, gelombang panas, dan kekurangan pangan. Sekretaris Eksekutif UNFCCC Yvo de Boer menyebut, COP Ke-15 merupakan ”titik balik” menuju pembangunan yang menjamin masa depan bersama. Di tengah suhu hampir nol derajat, delegasi 192 negara akan berdebat panas. (GSA)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau