6 Alasan Menghindari Long Distance Relationship

Kompas.com - 08/12/2009, 14:04 WIB

KOMPAS.com - Banyak pasangan yang terpaksa menjalani long distance relationship (LDR) karena terpaksa. Tetapi banyak pula yang menjalin hubungan meskipun tahu bahwa masing-masing tinggal di kota atau negara yang berbeda. Artinya, keputusan menjalin hubungan dilakukan atas pilihan mereka sendiri.

Tantangan apa yang dihadapi dengan hubungan jarak jauh, tentu Anda sudah tahu. Yang pertama, tentunya, masalah kesetiaan. Ketidakhadiran sosok pasangan bisa membuat Anda terbiasa untuk tidak menemuinya. Lama-kelamaan, perasaan dan harapan Anda pada si dia akan memudar. Apalagi kemudian Anda menemui sosok lain yang mampu mengatasi kerinduan Anda.

Karena itu Anda kagum, mengapa ada juga pasangan yang berhasil menjalani hubungan jarak jauh seperti ini. Bila ini yang menjadi pertanyaan Anda, jawabannya sederhana saja: jarak bukanlah penyebab kegagalan hubungan Anda. Anda lah yang membuat hubungan gagal. Sebab, LDR memang tidak berlaku untuk semua orang. Ingin tahu, orang seperti apa yang tidak cocok menjalani LDR?

Anda menyukai kemesraan
Menggandeng tangannya, saling berpelukan saat menonton konser romantis, atau mencium aroma tubuhnya yang khas, itulah yang paling Anda rindukan darinya. Jadi, meskipun Anda mampu menatap wajahnya di webcam sambil mengungkapkan betapa sayang Anda padanya, tetap saja terasa ada yang kurang lengkap. Melihat pasangan lain melakukan PDA di depan Anda juga pasti membuat Anda makin tersiksa.

Anda belum tahu apa yang ingin dicapai dari hubungan tersebut
Agar suatu hubungan jarak jauh bisa berhasil, Anda dan si dia harus tahu bahwa jarak itu bukan untuk selamanya, atau tidak terbatas. Gampangnya, jika Anda tidak saling membuat komitmen untuk bertemu kembali, dan tinggal di kota yang sama kelak, lebih baik tak usah buru-buru mengorek tabungan untuk menjumpai si dia yang berada di belahan dunia yang lain.

Anda tidak pandai membangun komunikasi
Ketidakhadiran si dia secara fisik dalam hidup Anda memang membuat Anda jadi sering merindukannya. Sayangnya Anda tak sanggup bila harus membayar ongkos telepon, dan Anda tidak pintar mengekspresikan emosi dan pikiran Anda lewat kata-kata. Jika saat sedang berduaan dengannya Anda bisa saling berpelukan saja tanpa berkata-kata, tidak demikian bila Anda menghadapinya melalui telepon. Sangat tidak mungkin membiarkan telepon hening tanpa pembicaraan, bukan? Jika Anda ingin serius bersamanya, Anda harus belajar berkomunikasi lebih baik. Bila tidak, hubungan Anda pasti akan membosankan.

Anda pernah berselingkuh
"Once a cheater, always a cheater" begitu kata orang. Jadi, Anda jangan terlalu percaya pada diri sendiri bahwa Anda mampu setia padanya. Atau, dia tetap setia dengan Anda. Kalau pun si dia berjanji untuk mengubah perilakunya, belum tentu Anda mampu mempercayainya 100 persen bukan? Mampukah Anda tidur dengan nyenyak semalam, sambil membayangkan si dia tengah asyik bersenang-senang dengan teman-temannya? Rasa cemburu adalah cara termudah untuk menggagalkan suatu hubungan. Bila Anda memang tak sanggup mengusir kecurigaan-kecurigaan semacam itu, sudahlah, akhiri saja hubungan Anda.

Anda tidak bersedia berkorban
Dengan tinggal berjauhan, artinya Anda dan dia harus menjalani kehidupan yang berbeda, dengan orang-orang yang berbeda. Untuk "bertemu" di telepon atau di dunia maya, Anda harus mengatur jadwal lebih dulu. Dan ini bukan hal yang mudah. Anda harus bersedia mengorbankan hal-hal yang Anda lakukan secara rutin untuk menyisihkan waktu bersama si dia. Jika tidak, salah satu dari Anda akan dianggap tidak mau berkomitmen.

Anda senang bermanja-manja
Karena si dia tak ada di dekat Anda, dengan siapa Anda bisa bermanja-manja? Bermanja dengan teman wanita atau dengan saudara Anda, tentu beda rasanya. Dengan teman pria Anda? Anda hanya mencari masalah, karena salah satu dari Anda biasanya tidak akan memperlakukan diri sebagai teman biasa lagi.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau