DENPASAR, KOMPAS.com — Aparat Bea Cukai Bandara Ngurah Rai berhasil menggagalkan upaya penyelundupan sabu oleh tujuh warga negara Iran, penumpang pesawat Qatar Airways QR 624 (Doha-Denpasar), yang mendarat pukul 18.30, Rabu kemarin.
Yang unik, terungkapnya percobaan penyelundupan ini berawal dari penemuan obat sakit perut dalam saku salah seorang tersangka. Menurut Kepala Bea Cukai Wilayah Bali, NTT, dan NTB Faried Siblybarchea, Kamis (10/12/2009), setelah menemukan obat sakit perut, petugas lantas memeriksa perut penumpang yang bersangkutan.
"Perutnya diperiksa, dan keras. Dia pun tak bisa berbahasa lain, selain Iran. Karena itu, kemudian, satu warga Iran itu dibawa ke Bali Internasional Medical Center," kata Faried. Setelah pemeriksaan di RS, dari perut tersangka berhasil dikeluarkan 100 kapsul kepompong, berukuran sebesar ibu jari, yang berat kotornya mencapai 5-6 gram.
Mendengar laporan tersebut, Direskrim Narkoba Polda Bali lantas mengembangkan kasus ini dengan memeriksa daftar penumpang pesawat. Di dalam manifes ditemukan enam penumpang warga Iran lainnya. "Mereka sudah keluar dari bandara, dan berada di Hotel Simpang Inn di Jalan Legian, Kuta. Enam orang itu kemudian ditangkap," kata Direktur Narkoba Polda Bali Kombes Kokot Hindarto.
Ketujuh lelaki yang dibekuk itu bernama Mehdi Alinejad Golestan, Bahman Mirzaei, Mohsen Muhammadiargasl, Daryoush Omidali, Alireza Safarkhanloo, Masoud Soltaninabizadeh, dan Saeid Soltaninabizadeh. Daryoush diduga sebagai tersangka pertama yang ditangkap di bandara.
"Sampai pukul 5 pagi ini terkumpul 371 kapsul, itu beratnya sekitar 2 kilogram. Prediksi maksimalnya, mungkin sampai sekitar 3,5 kilogram. Itu kalau ditaksir nilainya sekitar Rp 7 miliar, dengan asumsi harga Rp 1 juta-Rp 2 juta per gram," kata Kokot lagi.
Sampai berita ini diturunkan, upaya mengeluarkan kapsul sabu itu masih terus dilakukan. Para tersangka diminta meminum obat pencahar dan memakan pepaya. Beberapa tersangka mengaku hanya menelan beberapa butir kapsul. Namun ternyata, jumlah kapsul yang keluar dari perut mereka terus bertambah.
Lebih jauh, Kokot mengatakan, meskipun upaya penyelundupan terbongkar di Bali, ia tetap yakin bahwa target peredaran barang-barang haram tersebut adalah Jakarta. Ia menganalisis, rentetan pembongkaran upaya penyelundupan di Cengkareng telah memaksa para pengedar mencoba menjadikan Bali sebagai tempat transit sebelum Jakarta.
Analisis Kokot diperkuat dengan ditemukannya fakta bahwa dua dari tujuh tersangka seharusnya hanya transit di Ngurah Rai selama dua jam, sebelum melanjutkan perjalanan ke Jakarta. "Tujuan finalnya tetap Jakarta. Belum ada indikasi barang itu akan diedarkan di Bali. Di Jakarta (mereka) akan dijemput orang di bandara, mereka enggak tahu jaringannya terputus di situ," kata Kokot.
Sementara itu, berdasarkan pengakuan salah seorang tersangka, barang-barang itu berasal dari dataran China. Mereka menempuh perjalanan darat menuju Istanbul, Turki, sebelum mengambil penerbangan ke Doha dengan memakai Qatar Airways QR481 pada 8 Desember lalu. Setelah itu, mereka melanjutkan perjalanan menuju ke Denpasar. Diduga, ratusan kapsul itu ditelan saat mereka masih berada di Istanbul.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang