WASHINGTON, KOMPAS.com — Ketika lima pemuda Muslim Amerika Serikat ditangkap di Pakistan atas sangkaan terlibat kegiatan terorisme, kunci penguaknya bukan informasi dari agen federal atau mata-mata, tetapi dari orangtua yang khawatir bahwa putra mereka telah menjalankan keputusan yang mengerikan.
Keluarga-keluarga itu, yang tinggal di Virginia utara dan wilayah Washington, khawatir setelah melihat apa yang dilukiskan sebagai sebuah video yang sangat mengganggu. Video bikinan para pemuda itu menampilkan adegan-adegan perang dan korban-korbannya, serta menyerukan Muslim harus dibela.
"Salah seorang tampil di dalam video itu. Mereka menyatakan untuk melanjutkan konflik di dunia dan bahwa pemuda Muslim harus melakukan sesuatu," kata Nihad Awad dari Lembaga Hubungan Amerika-Islam atau CAIR. Video itu tidak disebarkan ke publik.
Polisi Pakistan, Kamis, mengatakan, para pemuda AS itu menyampaikan kepada para penyidik bahwa mereka datang ke Pakistan untuk melakukan jihad atau perang suci. Setelah kelima pria itu menghilang akhir November, keluarga mereka, anggota komunitas Muslin lokal, mencari bantuan CAIR. Lembaga itu lalu menghubungkan mereka dengan FBI serta memberi bantuan seorang pengacara.
Usia para pemuda yang hilang itu antara 19 hingga 25 tahun. Salah satu di antaranya, Ramy Zamzam, mahasiswa kedokteran gigi di Universitas Howard.
Polisi Pakistan mengatakan, mereka ditangkap, Rabu, di sebuah rumah di kota Sargodha. "Para pemuda Amerika ini berada dalam penjagaan kami," kata Kepala Polisi Sargodha, Javed Islam.
"Mereka mengatakan kepada kami bahwa mereka datang ke Pakistan untuk jihad."
Javed menambahkan, penyidik sedang mencari tahu apakah mereka telah melakukan kontak dengan kelompok-kelompok militan lokal.
Kasus ini memunculkan kecemasan bahwa warga AS dapat direkrut di dalam wilayah AS sendiri untuk bergabung dalam jaringan teroris.
Seorang pemimpin Muslim lokal di AS mengatakan, sebelum kelima pemuda itu berangkat, mereka tidak tampak sebagai militan. "Dari semua wawancara kami, tidak ada tanda-tanda bahwa mereka itu berpandangan radikal," kata Imam Johari Abdul-Malik.
Di Pakistan, perwira polisi Tahir Gujjar tidak mengindentifikasi mereka, tetapi ia mengatakan, ada yang keturunan Pakistan, seorang keturunan Mesir dan yang lain keturunan Yaman. Para pemuda itu menghabiskan waktu beberapa hari di Sargodha, kota yang memiliki pangkalan udara dan terletak sekitar 125 mil di selatan Islamabad.
Pakistan memiliki banyak kelompok militan, banyak pula yang berbasis di wilayah Sargodha. AS telah mendesak pemerintah Paksitan untuk membasmi para ekstremis. Al Qaeda dan Taliban diyakini bersembunyi di wilayah dekat perbatasan dengan Afganistan.
Di Washington, juru bicara FBI, Katherine Schweit, mengatakan, para agen sedang mencoba untuk membantu para pemuda itu. "Kami sedang bekerja dengan pihak berwajib Pakistan untuk mengetahui identitas mereka dan apa persis urusan mereka di sana jika benar mereka adalah para mahasiswa yang hilang," kata Schweit.
Menurut petugas CAIR, kelima pemuda itu meninggalkan AS pada akhir November tanpa memberi tahu keluarga mereka. Setelah mereka pergi, salah seorang dari mereka pernah menelepon keluarganya dan menyatakan, mereka masih di AS, tetapi kode nomor panggilan telepon menunjukkan bahwa telepon itu berasal dari luar ngeri.
Seorang juru bicara Universtias Howard membenarkan, Zamzam merupakan mahasiswa universitas tersebut, tetapi ia menolak untuk memberi komentar lebih lanjut. Samirah Ali, Presiden Asosiasi Mahasiswa Muslim Universitas Howard, mengatakan, FBI menghubunginya minggu lalu untuk menanyakan Zamzam dan mengatakan kepadanya bahwa Zamzam telah hilang selama seminggu.
Ali mengatakan, dia telah mengenal Zamzam selama tiga tahun dan tidak pernah mengira dia bakal terlibat dalam kegiatan radikal. "Dia seorang yang baik, ramah, dan bersahabat," kata Ali.
Salah seorang saudara Zamzam yang lebih muda mengatakan, Zamzam memiliki IP 4. "Dia orang baik," kata seorang saudaranya yang hanya menyebut dirinya dengan nama panggilan Zam.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang