KOMPAS.com - Blokade Israel atas Jalur Gaza semakin lama semakin membuat warga Palestina hidup menderita. Berbagai upaya pun dilakukan warga untuk bisa keluar dari wilayah yang diblokade tersebut. Beberapa warga menggunakan dokumen medis ”aspal” (asli tetapi palsu), antara lain dengan menyebutkan mereka menderita penyakit berat. Tujuan satu, agar bisa keluar dari Gaza. Namun, upaya itu tidak selalu berhasil mengecoh aparat keamanan Israel. Semua itu menunjukkan betapa makin frustrasinya warga Gaza atas penderitaan yang mereka alami karena blokade yang diberlakukan Israel dan Mesir sejak Hamas menguasai wilayah itu pada Juni 2007. Blokade atas Gaza itu memang memiliki sejumlah celah. Israel mengizinkan perlintasan untuk para pebisnis terkemuka. Untuk jumlah yang terbatas, ada warga Gaza bisa keluar untuk mendapatkan pengobatan atas penyakit yang serius di Israel. Warga lainnya terkurung di Gaza. Padahal, jajak pendapat terhadap warga Palestina menunjukkan, hampir setengah dari mereka ingin keluar jika diperbolehkan. Mereka merasakan hidup seperti terpenjara. Sebelum diperiksa aparat Israel, mereka yang ingin keluar sekarang ini harus pula dengan izin dari Pemerintah Hamas. Hal ini semakin mempersulit upaya mereka untuk mendapatkan kebebasan. Karena itu, tidak jarang mereka mencoba menyuap pejabat Hamas. Mereka yang berusaha menyuap untuk bisa keluar biasanya mendekati perantara agar bisa berhubungan dengan dokter setempat atau pejabat kesehatan Palestina. Akram Ghneim (31) adalah ayah dari enam anak. Dia tidak mempunyai pekerjaan. Hidupnya hanya bergantung pada pembagian makanan. Dia pernah menjanjikan 260 dollar AS kepada seorang perantara Palestina jika bisa membuat sebuah laporan medis palsu yang menyebutkan bahwa dia menderita kanker. Dia berharap dengan catatan dokter itu dia bisa dimasukkan ke dalam daftar pasien Gaza yang diizinkan mendapatkan perawatan kesehatan di Israel. Setelah berada di Israel, dia berencana menghilang dan bekerja ilegal. Akan tetapi, petugas intelijen Israel yang meneliti aplikasinya menolak dia dengan mengatakan bahwa laporannya mengenai kanker adalah palsu. ”Inilah yang terjadi akibat blokade. Sebagian besar warga frustrasi dan hidup menderita,” kata Ran Yaron, dari sebuah kelompok di Israel bernama Para Dokter untuk Hak Asasi Manusia. Kelompok ini turut membantu warga Gaza agar bisa masuk ke Israel untuk mendapat perawatan kesehatan dengan melobi pejabat pertahanan Israel. Yaron mengatakan, mereka yang memalsukan dokumen kesehatan sebenarnya sangat sedikit. Namun, ulah mereka itu menyulitkan pasien yang benar-benar sakit karena harus melalui pemeriksaan Israel yang lebih lama. Namun, Israel memiliki alasan untuk itu. ”Dari 7.000 lebih warga Gaza yang telah melintasi perbatasan ke Israel untuk mendapat perawatan medis, sepanjang tahun ini, sekitar 500 di antaranya belum kembali,” kata Kolonel Moshe Levi, pejabat pertahanan Israel. Beberapa dari mereka tetap tinggal di Israel, yang lainnya pindah ke Tepi Barat, wilayah Palestina lain yang dikuasai faksi Fatah dan Israel. Setelah berhasil tinggal di Tepi Barat, nasib juga belum tentu aman. Sewaktu-waktu mereka bisa dikembalikan ke Gaza. Seorang loyalis Fatah, perempuan berusia 30 tahun, mengatakan, dia sangat ingin keluar dari Gaza setelah dilecehkan oleh pejabat-pejabat Hamas. Dia menyuap seorang dokter di Gaza sebesar 100 dollar AS untuk memberinya sertifikat bahwa dia memiliki kanker yang hanya bisa diobati di Israel. Dokter itu kemudian membayar seorang perawat kesehatan yang bekerja di sebuah komite Palestina, yang mengesahkan laporan medis tersebut Dia sukses mencapai Tepi Barat dan bercerita dengan meminta identitasnya dirahasiakan karena khawatir dikembalikan ke Gaza oleh otoritas Israel. Ketua Komite Palestina Bassam Badri membantah anggota-anggotanya menerima suap. Omar Masri dari Departemen Kesehatan Palestina di Tepi Barat mengatakan, masalah ini terlalu sumir untuk dikomentari. Akan tetapi, warga Palestina yang berhasil keluar dari Gaza mengatakan, sejumlah pejabat kesehatan menerima suap sebanyak 100-500 dollar AS. Selain ke Israel dan Tepi Barat, warga Gaza ingin ke Mesir. Mesir terkadang membuka perbatasannya bagi mahasiswa di perguruan tinggi Mesir dan mereka yang memiliki kartu kependudukan di luar Gaza. Namun tidak jarang pula, aparat keamanan Mesir menerima suap yang bisa mencapai Rp 50 juta dari mereka yang ingin ke Mesir. Ini diutarakan seorang pejabat Hamas. Seorang petugas keamanan Mesir di perbatasan Rafah, yang minta identitasnya dirahasiakan, membantah petugas-petugas Mesir menerima suap. Dia malah mengatakan, tiga bulan lalu dua pejabat Palestina yang ditempatkan di Mesir dirotasi Juru bicara Departemen Dalam Negeri Jalur Gaza, Ehab Ghussein, mengungkapkan, sekitar 2.000 warga Gaza melintasi perbatasan Rafah setiap kali pintu perbatasan dibuka. Hanya setengahnya yang terdaftar resmi, sedangkan sisanya ditangani langsung oleh otoritas Mesir. Ribuan lainnya telah meminta diizinkan keluar, tetapi belum masuk ke dalam daftar. (AP/OKI)