KOPENHAGEN, KOMPAS.com — Ternyata bukan hanya saya atau Goris—pengunjung dua minggu di Kopenhagen—yang merasakan betapa mahalnya berbagai kebutuhan di kota ini. Beberapa teman delegasi dari negara lain juga merasakan hal yang sama. Begitu juga Winda, warga negara Indonesia, yang tengah menetap di Kopenhagen. Tak hanya makanan yang mahal. Menurut Winda, biaya kesehatan juga tergolong mahal, apalagi bagi pendatang yang belum mendapatkan izin tinggal alias resident permit.
Ia mencontohkan, untuk biaya pemeriksaan di dokter spesialis, jika tak mengantongi surat keterangan itu, bisa mencapai 15.000 kroner atau sekitar Rp 30.000.000 untuk sekali periksa!
Namun, jika sudah memiliki izin tinggal, kepala tak perlu pusing tujuh keliling. Warga Denmark tergolong mapan dan sejahtera. Semua warga tanpa kecuali, baik warga negara, pendatang, maupun pengungsi mendapatkan layanan gratis di semua fasilitas publik. Misalnya, layanan kesehatan dan pendidikan. Fully free!
Itu juga yang dirasakan Jesper, seorang karyawan produsen mobil, saat menemani saya dan Goris mengunjungi Danish Design Centre. Jesper menceritakan, untuk pekerja dengan golongan terendah dikenai pajak 42 persen. Namun, menurut Winda, masih ada golongan pekerja dengan tarif pajak lebih rendah, 37 persen. “Paling tinggi pajak 60 persen. Ya pajak itu untuk membayar berbagai kemudahan dan layanan hospitality yang kami dapatkan,” kata Jesper. Siswa sekolah juga mendapatkan kartu angkutan gratis yang akan membawanya pergi dan pulang sekolah.
Meski segala sesuatunya mahal, selain memberikan fasilitas gratis dalam hal pelayanan kesehatan dan pendidikan, Pemerintah Denmark juga mengajak warganya untuk melakukan upaya-upaya penghematan. Winda mencontohkan, setiap warga dibatasi penggunaan listriknya. Misalnya, biaya listrik per keluarga maksimal 2.500 kroner. Jika penggunaan di bawah tarif tersebut, sisanya akan dikembalikan dalam bentuk uang tunai.
“Jadi, kalau bisa menghemat banyak, lumayan juga. Dalam berapa tahun mungkin bisa mengembalikan uang yang dikeluarkan untuk membeli atau menyewa apartemen,” kata Winda, warga Jakarta yang menetap di Vanlose, Denmark, selama 6 bulan terakhir.
Kendati mahal, keramahan, kesahajaan, dan keteraturan di kota ini memberikan kesan tersendiri bagi para pengunjung yang datang ke kota ini. Salah satu duta iklim asal Vietnam, Jenny, mengaku sangat terkesan dengan keramahan warga Denmark. “Di sini, saya tidak takut tersesat. Semua orang selalu welcome dan mengatakan, semoga bisa menikmati Kopenhagen. Namun, saya tidak bisa menikmati harga-harganya yang mahal,” ujar Jenny.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang