Cibubur, Oase di Tengah Keramaian

Kompas.com - 13/12/2009, 10:28 WIB

KOMPAS.com — Nama Cibubur selalu dikaitkan dengan bumi perkemahan yang pada masa sebelum Reformasi tidak pernah sepi dari kegiatan Pramuka. Kini setelah Pramuka tidak lagi bergairah, kawasan hijau seluas 210 hektar ini mencoba bertahan di tengah gempuran kapitalisme.

Bagi orang yang pernah aktif dalam kegiatan Pramuka, Cibubur selalu menyimpan kenangan tersendiri. Harjanto (42), warga Joglo, Jakarta Barat, yang aktif ikut Pramuka ketika masih remaja, mengenang Bumi Perkemahan dan Graha Wisata Pramuka (Buperta) Cibubur sebagai tempat melatih keterampilan bertahan hidup di alam terbuka.

”Rasanya benar-benar seperti sedang berada di tengah hutan,” kata Harjanto. Untuk makan, ia dan teman-teman Pramuka memasak sendiri di tungku parafin atau kayu bakar.

Kini Bumi Perkemahan dikepung permukiman dan pusat bisnis. Anggota Pramuka yang berkemah di Cibubur tidak lagi memasak sendiri makanannya di atas tungku parafin atau kayu bakar seperti Harjanto. Mereka memilih memesan ayam goreng atau burger dari restoran cepat saji di sekitar Buperta.

Dilirik investor

Bumi Perkemahan Cibubur ibarat oase di tengah padatnya pembangunan permukiman di Cibubur. Kawasan hijau yang dibuka pada pertengahan tahun 1970-an ini sampai sekarang masih rimbun dengan pepohonan. Di dalam kawasan, danau seluas 8 hektar terpelihara baik, tampak bersih dari sampah. Buperta memang ingin dipertahankan sebagai daerah resapan air dan paru-paru kota.

Dari luas 210 hektar, lahan seluas 80 hektar, zona inti, digunakan sebagai tempat perkemahan dan sisanya sebagai zona penyangga, digunakan untuk berbagai keperluan, seperti kawasan penghijauan, wisma, aula, serta fasilitas rekreasi dan olahraga.

Seiring dengan perkembangan kota, Buperta mulai dilirik investor untuk permukiman atau pusat bisnis karena letaknya persis di pinggir pintu tol. Salah satu pengembang yang sempat menandatangani kontrak kerja sama dengan pengurus Kwartir Nasional Gerakan Pramuka adalah PT Prima Olahdaya, perusahaan milik Robby Sugita, pengusaha pemilik pusat perbelanjaan International Trade Centre (ITC) Mangga Dua, Jakarta Utara (Kompas, 9/10/2006). Kerja sama itu menuai protes banyak pihak dan sampai sekarang belum ada kejelasan kelanjutan kerja sama itu.

Selain diincar investor, lahan bumi perkemahan juga menjadi sasaran okupasi warga. Menurut Staf Khusus Buperta Richard El Toelle, sebelum Buperta dikelilingi pagar, warga sekitar sering menempati lahan Buperta tanpa izin. ”Mereka pelan-pelan membangun rumah atau warung dengan melewati batas kepemilikan lahan. Sekarang sudah ditertibkan,” kata Richard.

Bagi masyarakat Jakarta dan sekitarnya, Buperta menjadi salah satu tempat melepas ketegangan di tengah impitan kota. Pada akhir pekan, banyak keluarga muda membawa anak-anak berkemah di pinggir danau di belakang kantor pengelola Buperta. Pengelola Buperta menyediakan tenda dengan sewa Rp 70.000-Rp 200.000 per tenda dan untuk yang sekadar ingin jalan-jalan cukup membayar karcis masuk Rp 3.000-Rp 5.000 per orang.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau