TEHERAN, KOMPAS.com - Polisi Iran siang tadi mengepung kampus kampus Universitas Teheran mengamankan aksi protes yang dilakukan ratusan mahasiswa atas apa yang dituduhkan pemerintah bahwa mereka telah membakar foto Ayatollah Khameni, pendiri republik Islam pad aksi 7 Desember lalu.
Televisi milik pemerintah setempat telah berulang kali menampilkan gambar, seolah-olah pada protes kelompok oposisi pada 7 Desember lalu, ada tangan tak dikenal membakar gambar Ayatollah Ruhollah Khomeini.
Para mahasiswa memprotes bahwa gambar itu direkayasa oleh agen pemerintah dan digunakan untuk membenarkan aksi mereka menindak para oposisi.
Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei menyerukan agar publik tenang menghadapi hal itu, namun secara tidak langsung telah menuduh pihak kelompok oposisi menciptakan lingkungan yang tidak bersahabat.
"Beberapa aksi telah dimasukkan dalam kampanye pemilu kampanye untuk melawan seluruh sistem pemerintah," kata Khamenei tanpa menyebut pemimpin oposisi. "Kami menyerukan kepada mereka yang marah untuk tetap tenang."
Kelompok reformis, termasuk mantan calon presiden, Mir Husain Musavi berpendapat bahwa para pendukung mereka tidak ada hubungannya dengan pembakaran gambar, yang mereka katakan digunakan oleh rezim untuk mendiskreditkan pihak oposisi.
Sekadar mengingatkan, aksi unjuk rasa yang digelar 7 Desember lalu merupakan protes terbesar dalam beberapa bulan terakhir. Aksi ini memang memperlihatakan sejumlah kritikan terhadap pemimpin tertinggi negara saat ini, Khamenei.
Para mahasiswa meneriakkan slogan-slogan melawan dia, membakar dan menginjak-injak fotonya sebagai protes atas semua masalah yang selama ini terjadi. Tadi siang, puluhan polisi mengepung kampus Universitas Teheran lagi ketika ratusan mahasiswa pro-reformasi melakukan protes untuk membantah tuduhan tersebut,
Pasukan Pengawal Revolusi, kekuatan militer paling elite di negara terebut, hari ini melakukan persidangan dan penghukuman terhadap mereka yang bertanggung jawab membakar foto sebagai aksi lanjutan untuk menekan oposisi.
"Pengawal Revolusi tidak akan mentoleransi terhadap mereka yang melakukan penghinaan dan para agen di belakangnya," kata lembaga itu dalam pernyataan yang diposting di situsnya.
Mereka yang terbukti menghina pemimpin tertinggi Iran saat ini diancam kurungan dua tahun penjara.