Asia Kuasai Ladang Minyak Irak

Kompas.com - 14/12/2009, 06:50 WIB

BAGHDAD, KOMPAS.com - Perusahaan minyak Asia, Petronas dari Malaysia dan CNPC dari China, berhasil memenangi empat dari tujuh kontrak pengelolaan ladang minyak Pemerintah Irak. Pengumuman pemenang tender sudah dilakukan pada hari Sabtu (12/12).

Baik Petronas maupun CNPC merupakan perusahaan milik negara. Keduanya berhasil menyisihkan perusahaan-perusahaan minyak dari AS dalam tender tersebut.

”Jelas, orang China itu akan menjadi sangat agresif lagi pada masa yang akan datang,” ujar Ruba Husari, perempuan penggagas situs www.iraqioilforum.com. Dia menambahkan, China akan menjadi pemain penting pada abad ke-21 mendatang.

Sementara itu, Petronas Malaysia berhasil memenangi kontrak untuk mengelola ladang Majnoon, Halfaya, Garraf, dan Badra. Jika digabungkan, keempat ladang tersebut memiliki cadangan minyak mentah sebesar 17,65 miliar barrel dan dapat menghasilkan minyak sebesar 2,7 juta barrel per hari.

CNPC berhasil memenangi kontrak pengelolaan ladang Qurna Barat 2 yang memiliki cadangan terbukti sebesar 12,9 miliar barrel. Selain itu, CNPC juga merupakan pemegang saham utama dalam konsorsium yang memenangi kontrak di ladang Halfaya.

Selain kedua kontrak pengelolaan minyak, CNPC juga telah meneken kontrak kerja sama dengan BP—perusahaan minyak Inggris—untuk membantu mengelola ladang minyak terbesar Irak, Rumaila. Perusahaan India ONGC dan Oil India sebenarnya juga mengajukan penawaran, tetapi gagal bersaing.

Alex Munton, analis Timur Tengah dari lembaga riset Mackenzie, mengatakan, perusahaan Asia umumnya agresif dan berani, sedangkan perusahaan Barat umumnya sangat berhati-hati. Hal itulah yang membuat perbedaan persepsi di antara perusahaan Barat dan Asia terhadap kontrak yang ditawarkan oleh Irak.

”Apa arti Irak bagi China? tidak lain adalah akses lebih besar terhadap sumber energi. Isu yang lebih besar soal kontrak ini adalah ketahanan energi,” ujar Munton.

Perusahaan Barat

Perusahaan Barat yang turut serta dalam tender itu adalah Shell Belanda yang bermitra dengan Petronas di ladang Majnoon, Total Perancis yang menguasai 25 persen saham pada ladang Halfaya, dan StatoilHydro dari Norwegia yang memiliki saham minoritas pada ladang Qurna Barat 2.

Hanya ada satu perusahaan AS, yaitu Occidental Oil, yang turut dalam tender ini dan gagal menang pada tender di ladang Halfaya.

Sebagian perusahaan AS sudah pernah turut serta dalam tender pada Juni lalu. Exxon Mobile, misalnya, memenangi kontrak pengelolaan ladang Qurna Barat 1. (AFP/JOE)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau