KOPENHAGEN, KOMPAS.com — Seminggu sudah Konferensi PBB tetntang Perubahan Iklim berlangsung di Kopenhagen, Denmark. Berbagai kabar beredar, di antaranya semakin kecilnya peluang tercipta kesepakatan baru pengganti Protokol Kyoto, menyusul bocornya dokumen yang diduga sudah dirancang menjadi kesepakatan Kopenhagen.
Memasuki minggu kedua hari ini, Senin (14/12/2009), situasi dipastikan memanas dan memasuki masa-masa krusial. Ratusan kepala negara memastikan diri akan hadir dan memutuskan masa depan bumi melalui aksi pencegahan iklim secara global. Namun, bagi generasi muda, persoalan kelangsungan hidup di bumi bukan hanya soal kesepakatan. Mereka turut pula menggantungkan harap agar ada keinginan politik yang baik dari para pengambil keputusan untuk mulai mengambil keputusan dengan beranjak dari memikirkan masa depan generasi selanjutnya. Setidaknya, pesan itu ditangkap dari aksi Global Youth Day yang diadakan oleh para duta iklim muda yang dikirimkan sejumlah organisasi untuk menghadiri COP15 di Bella Centre, Kopenhagen, Denmark, Kamis (10/12/2009) lalu.
Para climate champions asal British Council menyuarakan "Our Future". Aksi dilakukan di beberapa titik yang menjadi area sentral tempat para peserta berkumpul sehingga cukup menarik perhatian. Di hari anak muda sedunia ini, seluruhnya serempak menggunakan kaus berwarna oranye dengan tulisan "How old will you be in 2050?"
"Kami ingin agar para pemimpin dunia tidak hanya berpikir kepentingannya. Pikirkan juga kepentingan kami yang masih akan melalui jalan panjang dalam kehidupan ini. Yes we can, yes we must, yes we will. Kami, generasi muda sudah berbuat sesuatu. Sekarang giliran Anda," kata Andrea, duta iklim asal Italia, saat menyampaikan orasinya.
Duta iklim dari Indonesia turut meramaikan aksi dengan membentangkan spanduk Merah Putih dengan tulisan "From Bali to Copenhagen". Maksudnya, kembali mengingatkan mandat COP13 di Bali akan komitmen perumusan kesepakatan baru.
Sepanjang hari, berbagai aksi teatrikal digelar di seluruh area Bella Centre, tempat pelaksanaan konferensi. Ada yang memilih berkeliling bergandengan tangan sambil meneriakkan kata-kata yang sarat pesan. Malam harinya, diadakan acara penerimaan berupa makan malam bersama Sekretaris UNFCCC Yvo de Boer. Dalam kesempatan ini, Boer menerima sejumlah masukan dan harapan dari para duta iklim muda. Harapan yang disampaikan, pada intinya, meminta para delegasi yang berunding dan para pengambil keputusan tak hanya berpikir hal-hal yang bersifat politis untuk merumuskan kesepakatan iklim.
Menanggapi masukan ini, Boer tak memberikan jawaban tegas. Ia hanya mengatakan tak usah terlalu banyak berharap pada politisi. Seorang duta iklim dari salah satu negara kepulauan kecil sempat menanggapi dengan mengatakan bahwa ia akan menjadi salah satu korban akibat perubahan iklim. Jika perubahan alam tak segera disikapi, maka negaranya akan tenggelam. "Saya tidak tahu bagaimana masa depan saya. Sir, please save our future," katanya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang