"Sir, Please Save Our Future..."

Kompas.com - 14/12/2009, 10:54 WIB

KOPENHAGEN, KOMPAS.com — Seminggu sudah Konferensi PBB tetntang Perubahan Iklim berlangsung di Kopenhagen, Denmark. Berbagai kabar beredar, di antaranya semakin kecilnya peluang tercipta kesepakatan baru pengganti Protokol Kyoto, menyusul bocornya dokumen yang diduga sudah dirancang menjadi kesepakatan Kopenhagen.

Memasuki minggu kedua hari ini, Senin (14/12/2009), situasi dipastikan memanas dan memasuki masa-masa krusial. Ratusan kepala negara memastikan diri akan hadir dan memutuskan masa depan bumi melalui aksi pencegahan iklim secara global. Namun, bagi generasi muda, persoalan kelangsungan hidup di bumi bukan hanya soal kesepakatan. Mereka turut pula menggantungkan harap agar ada keinginan politik yang baik dari para pengambil keputusan untuk mulai mengambil keputusan dengan beranjak dari memikirkan masa depan generasi selanjutnya. Setidaknya, pesan itu ditangkap dari aksi Global Youth Day yang diadakan oleh para duta iklim muda yang dikirimkan sejumlah organisasi untuk menghadiri COP15 di Bella Centre, Kopenhagen, Denmark, Kamis (10/12/2009) lalu.

Para climate champions asal British Council menyuarakan "Our Future". Aksi dilakukan di beberapa titik yang menjadi area sentral tempat para peserta berkumpul sehingga cukup menarik perhatian. Di hari anak muda sedunia ini, seluruhnya serempak menggunakan kaus berwarna oranye dengan tulisan "How old will you be in 2050?"

"Kami ingin agar para pemimpin dunia tidak hanya berpikir kepentingannya. Pikirkan juga kepentingan kami yang masih akan melalui jalan panjang dalam kehidupan ini. Yes we can, yes we must, yes we will. Kami, generasi muda sudah berbuat sesuatu. Sekarang giliran Anda," kata Andrea, duta iklim asal Italia, saat menyampaikan orasinya.

Duta iklim dari Indonesia turut meramaikan aksi dengan membentangkan spanduk Merah Putih dengan tulisan "From Bali to Copenhagen". Maksudnya, kembali mengingatkan mandat COP13 di Bali akan komitmen perumusan kesepakatan baru.

Sepanjang hari, berbagai aksi teatrikal digelar di seluruh area Bella Centre, tempat pelaksanaan konferensi. Ada yang memilih berkeliling bergandengan tangan sambil meneriakkan kata-kata yang sarat pesan. Malam harinya, diadakan acara penerimaan berupa makan malam bersama Sekretaris UNFCCC Yvo de Boer. Dalam kesempatan ini, Boer menerima sejumlah masukan dan harapan dari para duta iklim muda. Harapan yang disampaikan, pada intinya, meminta para delegasi yang berunding dan para pengambil keputusan tak hanya berpikir hal-hal yang  bersifat politis untuk merumuskan kesepakatan iklim.

Menanggapi masukan ini, Boer tak memberikan jawaban tegas. Ia hanya mengatakan tak usah terlalu banyak berharap pada politisi. Seorang duta iklim dari salah satu negara kepulauan kecil sempat menanggapi dengan mengatakan bahwa ia akan menjadi salah satu korban akibat perubahan iklim. Jika perubahan alam tak segera disikapi, maka negaranya akan tenggelam. "Saya tidak tahu bagaimana masa depan saya. Sir, please save our future," katanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau