"Nonton" Istri dengan Pria Lain

Kompas.com - 14/12/2009, 13:41 WIB

KOMPAS.com — Gara-gara menonton VCD porno, pria ini tertarik melakukan hubungan seks bertiga. Ternyata istrinya mau. Untuk selanjutnya istri mau memilih sendiri pria tambahannya. Celakanya, setelah itu sang istri meminta cerai karena menganggapnya mengalami kelainan seksual. Apakah pria ini mengalami kelainan?

"Saya umur 35 tahun, sedang mengalami masalah. Istri meninggalkan saya, menuntut cerai. Istri umur 28 tahun. Asal mulanya tidak ada masalah. Kami punya satu anak, ekonomi cukup, bahkan lebih baik dibandingkan kebanyakan orang di negara ini. Soal seks juga biasa saja. Istri kelihatannya bisa puas, saya juga.

Beberapa bulan lalu kami melakukan sesuatu yang bagi banyak orang mungkin aneh. Kami iseng nonton VCD porno. Lalu, iseng saya tanya kepada istri, apakah dia mau berhubungan dengan dua pria. Di luar dugaan, dia menjawab mau.

Lalu, saya mencari iklan di koran yang menawarkan pijat untuk pasutri. Selanjutnya berlangsunglah hubungan seks antara istri dan pria pemijat itu. Saya melihat mereka berhubungan meskipun ada perasaan kecewa karena istri mau melakukannya. Setelah pria itu pergi, saya dan istri melakukan juga.

Peristiwa itu jadi alasan istri untuk minta cerai. Istri mengatakan, saya mengalami kelainan. Saya bingung karena waktu saya tanya, istri mengatakan mau. Bahwa waktu saya tanya mau lagi atau tidak, dia bilang mau, tapi dia sendiri yang cari prianya.

Apa saya memang mengalami kelainan seks? Kalau ya, apakah istri tidak mengalami kelainan juga? Setelah peristiwa itu, kami biasa saja dalam berhubungan seks, sampai tiga bulan lalu istri menuntut cerai. Adakah orang lain yang melakukan seperti kami? Saya tidak mau cerai karena mencintai istri."
TN, Semarang

Tak dapat dipastikan
Kalau istri menganggap Anda mengalami kelainan seks, berarti dia juga mengalami kelainan seks. Bukankah istri setuju, bahkan berhubungan seks dengan pria itu walaupun Anda yang memulai?

Saya tidak berani mengatakan Anda mengalami kelainan seksual hanya berdasarkan surat Anda di atas. Kalau Anda mengalami kelainan seks berarti Anda harus terus atau sering melakukan perbuatan itu karena Anda hanya akan merasakan kepuasan kalau melakukan itu. Anda tidak seperti itu, bukan?

Di pihak lain, justru istri yang mengatakan mau melakukan lagi asal dia yang mencari prianya. Jadi, saya tidak akan mengatakan apakah Anda atau istri mengalami kelainan seks hanya berdasarkan cerita singkat Anda. Namun, saya ingin katakan bahwa perbuatan itu dapat menjadi suatu masalah bagi hubungan pribadi Anda dan istri.

Beberapa kemungkinan dapat terjadi akibat perbuatan itu. Pertama, Anda menganggap istri bukan istri yang setia dalam hal seks. Kedua, mungkin Anda merasa tak mampu seperti pria itu kalau istri Anda lebih puas dengan dia daripada Anda. Ketiga, mungkin fungsi seksual Anda jadi terganggu kalau Anda terus teringat adegan istri berhubungan dengan pria itu. Keempat, risiko penularan infeksi kelamin.

Saya tidak tahu, bahkan menduga pun tidak mampu, mengapa istri tiba-tiba meminta cerai dengan alasan Anda mengalami kelainan seks. Padahal, dia menyetujui dan melakukan hubungan seks dengan pria itu. Kecuali kalau sebenarnya istri tidak bersedia, tapi karena takut kepada Anda, akhirnya dia terpaksa melakukan perbuatan itu.

Kalau Anda bertanya apakah ada orang lain yang melakukan perbuatan seperti itu, jawaban saya "ada" walaupun tidak dengan pria pemijat yang mengiklankan diri. Perubahan persepsi tentang seks telah mengubah perilaku seksual manusia. Perilaku seksual yang dulu sulit diterima, kini mungkin saja terjadi, tentu dengan segala risikonya.

Konsultasi dijawab oleh Prof Dr Wimpie Pangkahila, Sp And

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau