JAKARTA, KOMPAS.com - Rumah Sakit Omni Internasional Alam Sutera, Serpong, telah resmi medaftarkan pencabutan gugatan perdata terhadap Prita Mulyasari di Pengadilan Negeri Tangerang, Senin (14/12/2009). Itu artinya, Prita yang juga didakwa mencemarkan nama baik RS Omni terbebas dari denda Rp 204 juta yang diputuskan oleh PN Tangerang dan dikukuhkan oleh Pengadilan Tinggi Banten.
Kasus gugatan perdata Prita dipastikan berhenti, tapi solidaritas masyarakat Indonesia untuk Prita yang diwujudkan dalam bentuk pengumpulan koin belum usai. Di Posko Wetiga, Kramat Pela, Jakarta Selatana, puluhan karung berisi koin menumpuk di pojok ruangan. Koin-koin yang dikumpulkan dari seantero Indonesia itu perlu dihitung.
Mengumpulkan koin adalah satu hal, mengitungnya adalah hal lain. Bayangkan, koin-koin yang terdiri dari pecahan Rp 50, Rp 100, Rp 200, Rp 500, dan Rp 1000 itu nilainya diperkirakan hingga ratusan juta rupiah. Posko Wetiga membutuhkan relawan!
Hal ini dipahami betul oleh Yos Sudarso. Sejak pukul 06.30 ia sudah datang ke Posko Wetiga. Kebetulan rumahnya tidak jauh dari posko koin itu. Dengan telaten, tangan keriput kakek berusia 71 tahun ini memilah-milah gundukan koin, memisahkan pecahan demi pecahan mata uang, dan memasukkannya ke dalam kaleng bertuliskan Rp 50, Rp 100, Rp 200, Rp 500, dan Rp 1000.
“Dulu saya pernah senasib dengan ibu Prita, saya dikeluarkan dari kantor perusahaan, dan pernah dapat sumbangan dari se-Indonesia,” tutur Yos sambil tangannya tak henti memilah-milah koin.
Tidak hanya Yos yang hadir di sana. Ada Antono. Kakek berusia 68 tahun ini datang jauh dari Cidodol. “Kebetulan orangtua Prita satu majelis Ta’alim dengan saya. Daripada enggak ada kegiatan, mendingan ikut bantu saja,” ujar kakek Antono.
Selain dukungan perorangan, para relawan juga datang berombongan. Ibu-ibu dari Yayasan Az-Zahrah, Jakarta Timur, awalnya datang hanya mengantar koin. Namun, melihat tumpukan koin di lantai seperti seolah melambai, mereka pun tak jadi beranjak pulang. “Ya... alangkah baiknya bisa membantu, lagipula ini amal ibadah juga, kog,” ujar salah satu ibu sambil menghitung koin.
Begitulah, solidaritas Indonesia masih berlanjut hingga siang ini. Peluh mengalir membasahi kening. Jari jemari menghitam tersaput debu yang menempel di koin. Tak terhitung sudah berapa kali para relawan itu berganti posisi duduk dan koin-koin masih menumpuk.
Rasa lelah terusir oleh canda tawa. Koin untuk Prita membawa aneka perjumpaan di antara para relawan yang mulanya tak saling kenal. Prita memang menyatukan banyak orang. “Insya Allah, besok kita akan datang lagi membawa anak-anak asuh untuk datang membantu,” ujar salah satu ibu dari Yayasan Az-Zahrah.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang