Pemberontak Myanmar Jual Opium untuk Senjata

Kompas.com - 14/12/2009, 16:28 WIB

BANGKOK, KOMPAS.com — Sebuah laporan PBB, Senin (14/12/2009), mengungkapkan, sejumlah kelompok etnis di Myanmar utara membudidayakan opium agar bisa membeli senjata yang digunakan untuk mempertahankan diri dari kemungkinan serangan militer pemerintah.

Menurut laporan yang dikeluarkan Kantor PBB untuk masalah obat bius dan kejahatan (UNODC) itu, produksi opium di wilayah tersebut meningkat selama tiga tahun berturut-turut. Tahun ini bahkan naik 11 persen. Negara bagian Shan, dikatakan, menyediakan 95 persen opium Myanmar. Untuk diketahui, negara ini merupakan produsen opium kedua terbesar di dunia setelah Afganistan.

"Ketidakstabilan di Myanmar utara mempengaruhi pasar opium. Sejumlah kelompok etnis sedang menjual obat bius untuk membeli senjata, dan memindahkan persediaan mereka demi menghindari deteksi," kata Direktur Eksekutif UNODC, Antonio Maria Costa.

Tentara Myanmar mempertahankan kehadirannya dalam jumlah besar selama beberapa bulan di negara bagian Shan. Di negara bagian itu, milisi pemberontak dikaitkan dengan serangan yang menurut para pengamat dapat memperpanjang konflik dan menciptakan krisis pengungsi bagi negara tetangganya, China.

Para aktivis negara bagian Shan mengatakan, Junta Mynmar menginginkan kelompok-kelompok etnis ambil bagian dalam pemilihan umum tahun depan dan meminta para milisi lokal untuk melucuti senjata mereka dan bergabung dengan pasukan patroli perbatasan pemerintah atau akan disapu bersih. Militer Myanmar menindas dan melucuti senjata kelompok etnis Kokang, etnis dengan milisi paling lemah di wilayah itu, Agustus lalu, setelah beberapa hari pertempuran. Hal itu memicu eksodus lebih dari 37.000 orang melewati perbatasan dan membuat tegang hubungan dengan China, satu-satunya sekutu diplomatik Myanmar.

Menurut laporan media dan para aktivis, tentara negara bagian Wa Serikat, milisi beretnis China dengan kekuatan 20.000 orang, yang diberi label sebuah kartel narkotika oleh Amerika Serikat, telah menolak perlucutan senjata dan tengah mempersiapkan sebuah serangan dalam waktu dekat.

UNODC mengatakan, jumlah lahan yang digunakan untuk menanam opium, bahan baku heroin, telah meningkat 50 persen sejak tahun 2006 hingga mencapai luas 31.700 hektar di Myanmar. Meski ada peningkatan pembudidayaan, laporan itu mengatakan, nilai potensial dari produksi opium Myanmar telah jatuh 15 persen, menjadi 104 juta dollar AS tahun 2009 dari 123 juta dollar sebelumnya.  Di negara tetangganya, Laos, pembudidayaan opium juga telah meningkat 19 persen, tetapi totalnya lahannya masih rendah, yaitu 1.900 hektar. Bagaimanapun, dengan harga opium 1.326 dollar per kg, nilainya tetap menarik bagi para petani pada saat nilai hasil panen lain jatuh.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau