Palembang, Kompas
Saat ini benteng tersebut telah beralih fungsi menjadi Kantor Kesehatan Kodam Sriwijaya dan rumah sakit yang dikelola Kodam Sriwijaya.
Berdasarkan pantauan
”Bangunan-bangunan di dalam benteng yang dibangun Sultan Badaruddin itu telah dihabiskan pasukan Belanda pada tahun 1784 sehingga sulit mengenali jejak-jejaknya Sultan Palembang. Paling tidak, yang harus dilakukan (sekarang) adalah merestorasinya. Bangunan yang ada dirawat dan dilestarikan. Kalau harus merekonstruksi kembali, hal itu tidak gampang,” kata budayawan Bumi Sriwijaya, Djohan Hanafiah.
Pengembalian kembali Benteng Kuto Besak kepada negara dalam konteks rakyat Palembang, menurut Djohan, sangat tepat. ”Itu sudah menjadi cita-cita rakyat Palembang. Saya dan masyarakat Palembang sudah lama memperjuangkan agar Benteng Kuto Besak dikembalikan kepada negara dan memfungsikannya untuk lambang kesultanan, pusat informasi dan pariwisata,” katanya.
Sekitar 10 tahun lalu, lanjut Djohan, pihaknya sudah berupaya keras memperjuangkan pengambilalihan fungsi Benteng Kuto Besak itu sampai ke Panglima TNI. ”Namun, terbentur persoalan relokasi dan biaya yang sangat besar. Pemerintah daerah tidak memiliki biaya untuk relokasi yang nilainya ratusan miliar rupiah,” ujarnya.
Menanggapi keinginan rakyat Palembang itu, Kepala Penerangan Kodam Sriwijaya Letkol Mohammad Noor menyatakan, pihaknya menyerahkan masalah itu sepenuhnya kepada negara sebagai pemilik cagar budaya Benteng Kuto Besak Palembang. ”Semua ini hanya titipan negara untuk dikelola dengan baik dan tidak disalahgunakan,” katanya.
”Pengambilalihan Benteng Kuto Besak yang dimanfaatkan untuk Kantor Kesdam Sriwijaya dan rumah sakit tidak bisa serta-merta dilakukan tanpa melalui prosedur dan mekanisme yang ada. Ibaratnya, SIM (surat izin mengemudi) tentunya tidak bisa langsung jadi karena harus ada data-data dan prosedur yang dipenuhi,” ujar Noor.
Ia membantah keras tuduhan bahwa Benteng Kuto Besak ditelantarkan oleh Kodam Sriwijaya. ”Kami telantarkan apanya, malahan kami pelihara dan jaga dengan baik,” ujar Noor.
Bangunan-bangunan yang terdapat di dalam Benteng Kuto Besak, menurut Noor, oleh Kodam Sriwijaya dimanfaatkan untuk Kantor Kesdam dan rumah sakit yang tidak hanya melayani prajurit, tetapi juga masyarakat. ”Itu berarti warga masyarakat juga bisa berkunjung dan melihat bangunan cagar budaya. Masalahnya, itu kantor sehingga orang tidak bisa semaunya masuk dan keluar,” katanya.