Ingat, Rakyat Selalu Punya Kekuatan

Kompas.com - 16/12/2009, 06:14 WIB

KOMPAS.com - Sekeping uang koin mungkin tak berarti. Namun, kumpulan jutaan koin bisa membentuk benteng kuat melindungi si lemah. Recehan yang sering dianggap tak berarti menjadi meriam pembobol dominasi penindas, hasil sistem yang korup. Lewat koin, rakyat unjuk gigi meraih keadilan. neli triana dan Sarie Febriane

Sejak pukul 10.00 tadi saya di sini. Uang tidak punya, jadi membantu menghitung saja. Semoga kasus Prita (Mulyasari) selesai dengan adil. Jangan sampai seperti anak saya yang akhirnya meninggal,” kata Sabarudin (60), sukarelawan penghitung koin di Posko Wetiga, Jalan Langsat I Nomor 3A, Kramat Pela, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa (15/12).

Sabarudin berasal dari Lampung dan sedang berada di Jakarta untuk berobat. Dua sampai tiga tahun lalu ia pernah terlunta-lunta di Jakarta saat mencari pengobatan bagi anaknya yang sakit gagal ginjal. Untuk mengurus asuransi kesehatan bagi warga miskin, Sabarudin harus bolak-balik Lampung-Jakarta. Prosedur yang dirasa menyulitkan itu berbuah keterlambatan pelayanan kesehatan dan berakhir fatal.

Bagi Sabarudin, berada di Posko Wetiga membuatnya bisa membalas ketidakadilan yang pernah ia rasakan.

Rasa senasib juga ditunjukkan Yos Sudarso (71). Laki-laki yang giat membantu menghitung koin Prita sejak Senin ini pada 1960-an dikeluarkan dari kantornya. Alasannya sepele. Ia melayangkan surat pembaca berisi protes kepada atasannya yang berjanji mengucurkan kredit rumah, tetapi tidak dipenuhi. Kisah Yos yang dimuat di media massa mengundang simpati masyarakat kala itu. Kalau Prita mendapat koin, Yos mendapat kiriman uang melalui wesel pos.

Sabarudin dan Yos adalah bagian dari sedikitnya 30 sukarelawan penghitung koin untuk Prita di Posko Wetiga.

Hingga Selasa pukul 20.40, sumbangan koin Prita mencapai Rp 482.101.475. Koin sebagian besar berupa pecahan Rp 500 berdiameter 2,7 sentimeter, berat 3,25 gram, dan tebal 2,5 milimeter, serta koin Rp 100 berdiameter 2,3 sentimeter, berat 1,88 gram, dan tebal 2 milimeter. Jika disusun bertumpuk, beratnya mencapai 10 ton lebih dengan ketinggian berpuluh kali tinggi Tugu Monas.

Gerakan tanpa pemimpin

Dalam daftar penyumbang koin di Pos Wetiga tercatat penyumbang datang dari seantero negeri dan warga negara Indonesia di luar negeri. Sementara penyumbang koin dan sukarelawan penghitung koin berasal dari bermacam kalangan.

Sejak Senin lalu, di Posko Wetiga terlihat penyanyi Indah Sita Nursanti, perwakilan dari instansi pemerintahan, karyawan sejumlah perusahaan swasta, politikus, remaja, hingga Bachrudin, penjual es keliling.

Mereka tidak canggung duduk membaur bersama, di karpet merah yang tergelar di pelataran rumah yang menjadi pos Koin Peduli Prita itu.

Inilah sebuah gerakan massa yang tak punya pemimpin, tak perlu komando, dan tak perlu panitia khusus. Namun, gerakan itu berjalan mulus, tanpa konfrontasi, damai, penuh keikhlasan, bersemangat, dan gaungnya membahana. ”Dari gerakan ini, terbukti bangsa kita masih punya rasa solidaritas yang tinggi, tidak individualistis. Ketika pemerintah dan wakil rakyat seperti tak ada, rakyat bisa bergerak sendiri,” kata Yusro MS (49), sukarelawan.

Tak hanya sumbangan koin dan tenaga hitung, beragam bentuk bantuan lain juga datang, mulai dari makanan dan minuman untuk sukarelawan, perlengkapan mengemas koin, hingga gel pembersih tangan. Pengiriman paket koin dari daerah juga digratiskan oleh perusahaan jasa kurir.

Handaru, salah seorang sukarelawan, mengatakan, solidaritas gerakan bahkan akan diwujudkan dalam bentuk konser musik. Acara itu direncanakan Minggu (20/12), bertepatan dengan Hari Kesetiakawanan Nasional, di Hard Rock Cafe, Plaza eX, Jakarta Pusat. Sekitar 20 musisi sudah bersedia tampil.

”Prita tentu diundang karena kami akan menyerahkan secara simbolik sumbangan koin untuknya,” kata Handaru.

Mencari bank

Yusro mengatakan, satu hal yang belum terpecahkan saat ini adalah menemukan bank yang bersedia menerima jutaan koin itu untuk dimasukkan dalam rekening atas nama Prita. Penggunaan dana itu diserahkan sepenuhnya kepada Prita.

Kasus Prita Mulyasari (32) merebut perhatian masyarakat dan memicu rakyat tergerak membelanya. Prita digugat dan didakwa kasus pencemaran nama baik Rumah Sakit Omni Internasional Alam Sutera, Serpong, Tangerang Selatan, karena mengirimkan e-mail ke beberapa temannya, yang berisi keluhan pelayanan rumah sakit itu. Meski Omni telah mencabut gugatan perdata, perkara pidananya masih dihadapi Prita.

”Saya tak kenal Prita. Ini bukan masalah pribadi dia, tetapi menyangkut masalah orang kecil. Barangkali, kalau tidak ada gerakan massal begini, sulit ada keadilan murni bagi orang kecil,” kata Lina, sukarelawan.

Gerakan ini menyimpan pesan bagi penguasa dan pemodal: ketika rasa keadilan terusik, rakyat selalu punya kekuatan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau