Ekonomi Mudah Panas

Kompas.com - 16/12/2009, 06:36 WIB

 

JAKARTA, KOMPAS.com - Perekonomian Indonesia tergolong ekonomi yang cepat panas. Tumbuhnya permintaan dengan mudah memicu inflasi. Hal ini merupakan akibat dari rendahnya kapasitas perekonomian.

Kepala Ekonom Mandiri Sekuritas Destry Damayanti saat memaparkan outlook ekonomi Indonesia 2010, Selasa (15/12) di Jakarta, mengatakan, perekonomian Indonesia cepat panas karena sisi penawaran cenderung tidak bisa mengimbangi sisi permintaan.

Output gap atau selisih antara PDB (produk domestik bruto) potensial dan PDB aktual Indonesia tergolong terendah di Asia. Karena inilah perekonomian cepat panas,” kata Destry.

Akibat terbatasnya kemampuan suplai, kenaikan permintaan dengan mudah memicu kenaikan harga. Dampaknya, inflasi pun melambung.

Dampak berikutnya, bank sentral mau tidak mau harus menaikkan suku bunga untuk meredam permintaan. Akibatnya, pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak bisa optimal dan berkesinambungan.

Jika bank sentral membiarkan inflasi, risikonya adalah suku bunga riil akan negatif dan mata uang rupiah tidak menarik di mata investor.

Dalam dekade terakhir, pertumbuhan ekonomi Indonesia rata-rata 5 persen, sementara inflasi sekitar 8-9 persen. Tahun 2010, inflasi diperkirakan 6,3 persen dengan pertumbuhan ekonomi 5,2 persen dan suku bunga acuan Bank Indonesia 7,25 persen.

Menurut Destry, faktor lain yang membuat pertumbuhan ekonomi tidak bisa optimal adalah pergeseran penopang pertumbuhan, dari sektor barang dapat diperdagangkan (tradable) ke sektor barang tidak dapat diperdagangkan (nontradable).

Pada era 1990-an, sektor barang dapat diperdagangkan, seperti pertanian dan manufaktur, masih mendominasi sumber pertumbuhan. Namun, dalam dekade terakhir, sektor barang tidak dapat diperdagangkan yang dominan.

Dominasi sektor barang tidak dapat diperdagangkan membuat pertumbuhan kurang mampu menyerap tenaga kerja. Selain itu, pasar keuangan akan terperangkap dalam rezim suku bunga tinggi.

Menurut Destry, untuk membuat perekonomian tidak cepat panas, kapasitas ekonomi atau kapasitas produksi harus ditingkatkan.

Caranya, dengan membangun infrastruktur, seperti jalan dan energi. ”Selama ini, dunia usaha enggan berekspansi meningkatkan produksi karena khawatir listrik tidak mencukupi atau distribusi akan terhambat karena jalan yang macet,” ujarnya.

Pasar obligasi

Sementara itu, analis pasar utang Mandiri Sekuritas, Handy Yunianto, berpendapat, daya serap pasar terhadap Surat Utang Negara (SUN) dan obligasi korporasi pada 2010 diperkirakan bakal tinggi.

Mandiri Sekuritas memperkirakan, bakal ada tambahan outstanding obligasi sebesar Rp 67,2 triliun pada 2010. Adapun outstanding obligasi per 3 Desember 2009 sebesar Rp 581,8 triliun.

Menurut Handy, institusi yang kemungkinan menyerap obligasi paling besar adalah asuransi dan asing. Permintaan asuransi dan reksa dana terhadap obligasi terus meningkat seiring turunnya suku bunga deposito.

Tingginya daya serap obligasi, kata Handy, akan membantu pemerintah yang pada 2010 berencana menerbitkan obligasi secara neto Rp 104 triliun. Hal ini merupakan upaya menutup defisit anggaran 2008 yang diperkirakan 1,6 persen dari PDB. (FAJ)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau