JAKARTA, KOMPAS.com -
Kepala Ekonom Mandiri Sekuritas Destry Damayanti saat memaparkan outlook ekonomi Indonesia 2010, Selasa (15/12) di Jakarta, mengatakan, perekonomian Indonesia cepat panas karena sisi penawaran cenderung tidak bisa mengimbangi sisi permintaan. ”Output gap atau selisih antara PDB (produk domestik bruto) potensial dan PDB aktual Indonesia tergolong terendah di Asia. Karena inilah perekonomian cepat panas,” kata Destry. Akibat terbatasnya kemampuan suplai, kenaikan permintaan dengan mudah memicu kenaikan harga. Dampaknya, inflasi pun melambung. Dampak berikutnya, bank sentral mau tidak mau harus menaikkan suku bunga untuk meredam permintaan. Akibatnya, pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak bisa optimal dan berkesinambungan. Jika bank sentral membiarkan inflasi, risikonya adalah suku bunga riil akan negatif dan mata uang rupiah tidak menarik di mata investor. Dalam dekade terakhir, pertumbuhan ekonomi Indonesia rata-rata 5 persen, sementara inflasi sekitar 8-9 persen. Tahun 2010, inflasi diperkirakan 6,3 persen dengan pertumbuhan ekonomi 5,2 persen dan suku bunga acuan Bank Indonesia 7,25 persen. Menurut Destry, faktor lain yang membuat pertumbuhan ekonomi tidak bisa optimal adalah pergeseran penopang pertumbuhan, dari sektor barang dapat diperdagangkan (tradable) ke sektor barang tidak dapat diperdagangkan (nontradable). Pada era 1990-an, sektor barang dapat diperdagangkan, seperti pertanian dan manufaktur, masih mendominasi sumber pertumbuhan. Namun, dalam dekade terakhir, sektor barang tidak dapat diperdagangkan yang dominan. Dominasi sektor barang tidak dapat diperdagangkan membuat pertumbuhan kurang mampu menyerap tenaga kerja. Selain itu, pasar keuangan akan terperangkap dalam rezim suku bunga tinggi. Menurut Destry, untuk membuat perekonomian tidak cepat panas, kapasitas ekonomi atau kapasitas produksi harus ditingkatkan. Caranya, dengan membangun infrastruktur, seperti jalan dan energi. ”Selama ini, dunia usaha enggan berekspansi meningkatkan produksi karena khawatir listrik tidak mencukupi atau distribusi akan terhambat karena jalan yang macet,” ujarnya. Sementara itu, analis pasar utang Mandiri Sekuritas, Handy Yunianto, berpendapat, daya serap pasar terhadap Surat Utang Negara (SUN) dan obligasi korporasi pada 2010 diperkirakan bakal tinggi. Mandiri Sekuritas memperkirakan, bakal ada tambahan outstanding obligasi sebesar Rp 67,2 triliun pada 2010. Adapun outstanding obligasi per 3 Desember 2009 sebesar Rp 581,8 triliun. Menurut Handy, institusi yang kemungkinan menyerap obligasi paling besar adalah asuransi dan asing. Permintaan asuransi dan reksa dana terhadap obligasi terus meningkat seiring turunnya suku bunga deposito. Tingginya daya serap obligasi, kata Handy, akan membantu pemerintah yang pada 2010 berencana menerbitkan obligasi secara neto Rp 104 triliun. Hal ini merupakan upaya menutup defisit anggaran 2008 yang diperkirakan 1,6 persen dari PDB.