Waspada bila Sering Kencing Tak Terkontrol

Kompas.com - 16/12/2009, 08:15 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Pertambahan usia manusia umumnya disertai dengan perubahan anatomi dan fungsi organ di seluruh tubuh. Salah satu penanda yang gampang dikenali adalah turunnya fungsi kandung kemih.

Umumnya, penurunan fungsi kemih itu ditandai dengan kencing di luar kesadaran atau biasa disebut ngompol. Kencing yang tak terkontrol ini kadang terpicu oleh aktivitas-aktivitas kecil seperti batuk atau bahkan tertawa.

Tak hanya orang lanjut usia yang mengalami gangguan saluran kemih ini. Perempuan yang baru melahirkan juga tak jarang mengalami gangguan berkemih ini. Dalam ilmu kedokteran, gangguan berkemih biasanya disebut dengan  inkontinensia urine. Ini adalah gangguan yang terjadi pada saluran kemih sehingga membuat orang acap kali kencing di luar kontrol dan kesadaran.

"Ini merupakan akibat dari ketidakmampuan seseorang menahan kencing baik dalam jumlah sedikit, sampai dengan jumlah besar," kata Mulyadi Tedjapranata, dokter Klinik Medizone di Apartemen Taman Kemayoran, Jakarta Pusat.

Banyak faktor yang membuat orang tidak mampu mengontrol kencing mereka. Salah satu sebab yang paling lazim, hal itu terjadi karena fungsi otot dasar panggul yang melemah. Konsumsi obat-obatan tertentu bisa menjadi pernyebab menurunnya kekuatan otot panggul ini.

Mereka yang menderita diabetes juga bisa mengalami gangguan berkemih. Maklum saja, metabolisme tubuh pada penderita diabetes membuat produksi urine berlebihan. Walhasil, "Mereka kadang sulit mengontrol produksi urinenya," ujar dia.

Berdasarkan penelitian para ahli, perempuan nyatanya lebih kerap mengalami gangguan pada saluran kencing ini ketimbang laki-laki. Di Indonesia, prevalensi atau jumlah perempuan yang menderita inkontinensia urine sebesar 5,8 persen, sedangkan pria hanya 5 persen. Pada wanita manula, bahkan prevalensi gangguan berkemih meningkat menjadi 35 persen-45 persen.

Risiko gangguan berkemih ini umumnya banyak terjadi pada wanita yang kerap melahirkan secara normal.

Otot uretra bisa lumpuh
Dalam ilmu kedokteran, inkontinensia urine terbagi menjadi empat jenis.
Pertama, inkontinensia stress. Ini terjadi jika tekanan kandung kemih meningkat melebihi tekanan pada saluran kencing, yakni saat terjadi batuk atau bersin.

Kedua adalah urge inkontinensia urine yang terjadi akibat aktivitas gerakan otot kandung kemih yang berlebihan yang mengakibatkan dorongan yang kuat untuk mengeluarkan urine. "Biasanya ini muncul bila ada infeksi di kandung kemih," imbuh Dahrial Daud, dokter kandungan dari Rumah Sakit Siloam, Tangerang.

Yang ketiga adalah inkontinensia overflow. Pada kondisi ini, urine biasanya keluar secara terus-menerus karena kandung kemih penuh dan melebihi kapasitas. Gangguan kemih jenis biasa diderita oleh kaum laki-laki. Penyebabnya adalah sumbatan mekanis karena terjadi pembesaran prostat. Yang terakhir adalah inkontinensia transien atau fungsional. Ini adalah gangguan kemih yang terjadi akibat faktor lain di luar saluran kemih, misalnya, ada kelainan fisik atau kognitif yang terjadi pada seseorang.

Dalam jangka panjang dan tanpa pengobatan, gangguan pada saluran kemih ini bisa menyebabkan kelumpuhan pada otot uretra kita. Jika ini terjadi, operasi adalah jalan memperbaikinya. Karena itu, sebelum terlambat, jangan ragu untuk berobat.(KONTAN/Herlina Kartika Dewi)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau