KOPENHAGEN, KOMPAS.com — Tak ada yang bisa membantah bahwa keinginan pemerintah Denmark menjadikan negaranya sebagai carbon neutral country pada tahun 2050 bukan sekadar visi. Begitu pula pemerintah kota Kopenhagen, dengan targetnya menjadikan Kopenhagen sebagai ibu kota negara pertama dengan tingkat karbon netral pada tahun 2025. Sistem yang dibangun dengan mapan menjadi jalan mewujudkan impian itu. Dan semuanya telah dirintis sejak beberapa tahun terakhir.
Saya dan Goris, climate champions dari Indonesia, sempat mengikuti energy tour yang merupakan rangkaian kegiatan COP15. Dua bukti keseriusan pemerintah Denmark yang sempat disaksikan langsung adalah penerapan teknologi tinggi dalam pengelolaan sampah menjadi energi. Tak hanya itu, Denmark juga telah memulai pilot project-nya untuk membangun gedung dan rumah yang ramah lingkungan dengan menggunakan solar panel dan ventilasi yang dirancang khusus bagi kawasan yang menikmati musim dingin dan musim panas. Ini sekelumit cerita dari tur dua jam yang menjadi bagian dari pembuktian pemerintah Denmark tentang mimpinya.
Mengolah sampah menjadi energi
Sebelumnya tak pernah terbayangkan bahwa sampah bisa diolah menjadi energi. Sekitar 30 peserta COP15 beruntung mendapatkan kesempatan untuk mengikuti tur ke lokasi pengelolaan sampah di Denmark di bawah perusahaan Amagerforbraending. Perusahaan ini memang berspesialisasi dalam hal pengelolaan sampah menjadi sesuatu yang lebih bernilai. Sampah-sampah di Kopenhagen diproses menjadi green energy.
Pengolahan sampah ditransformasikan menjadi tenaga listrik yang ramah lingkungan dan district heating. Kapasitas sampah yang bisa ditampung untuk diolah mencapai 440.000 ton per tahunnya. Energi dari pengolahan sampah ini terutama memproduksi CO2-netral energi, yang sebagian besar sampah terdiri dari material organik. Totalnya, mencapai 25 persen dari penggunaan di district heating di seluruh Kopenhagen atau setara dengan mengaliri listrik 70.000 rumah tangga.
Dari keseluruhan sampah di Kopenhagen, sebanyak 50 persen berasal dari sampah rumah tangga, pusat daur ulang 7 persen dan sampah industri 42 persen, serta lainnya 1 persen.
Proses kerja pengolahan sampah ini berlangsung dalam 7 tahap. Secara singkatnya, ada pemisahan antara sampah organik dan non-organik. Kemudian sampah-sampah dipanaskan dan selanjutnya akan diolah menjadi sumber energi melalui sejumlah proses yang diterangkan secara singkat oleh para ahli di Amagerforbranding. Dengan pengolahan limbah sampah seperti ini diyakini dapat mengurani emisi di atmosfer dan efisiensi energi akan memberikan keuntungan besar bagi lingkungan.
Gedung dan rumah ramah lingkungan
Selain mengupayakan pengolahan limbah sampah yang ramah lingkungan, pemerintah Denmark bekerja sama dengan sejumlah universitas dan para ahli dari perusahaan arsitek juga merancang gedung dan rumah yang ramah lingkungan. Mereka menyebutnya sebagai neutral carbon building dan neutral carbon houses. Gedung pertama dibangun di Fakultas Sains, Universitas Kopenhagen, yang diperuntukkan bagi dekan, profesor, dan mahasiswa. Gedung yang berbentuk minimalis dan dicat hijau ini didesain oleh Christensen and Co Architects A/S. Gedung ini dibangun dengan banyak kaca sehingga untuk cahaya pada siang hari mengandalkan sinar matahari. Tak hanya itu, pembangunan gedung ini juga menekankan pada banyaknya ventilasi.
Gedung yang juga sering disebut sebagai green light house ini mulai dibangun pada Oktober 2008 dan selesai pembangunannya pada Oktober 2009. Kesempatan menjadi tuan rumah COP 15 tak disia-siakan pemerintah Denmark untuk menyosialisasikan konsep yang tengah dikembangkannya. Ke depannya, proyek yang sama akan dilakukan di sejumlah negara. di antaranya Inggris, Jerman, Amerik,a dan Perancis. Salah satu ahli, Michael Rasmussen, mengatakan, tiga titik poin dari konsep ini adalah energo, indoor climate, dan lingkungan. “Kesemuanya ini harus nyaman dan menyehatkan,” ujarnya.
Dijelaskan, dalam konsep ini cahaya digunakan sebagai energi aktif. Gedung ini memiliki fungsi sebagai cahaya kapan saja dan dalam keadaan cuaca apa saja dan mentransformasikan cahaya dari luar ke dalam melalui jendela dan atap yang transparan dari kaca. Terdapat pula sensor yang akan mengatur cahaya. Seluruh energi digerakkan dengan solar dan sinar matahari.
Untuk rumahnya, pilot project dilaksanakan di kawasan utara Kopenhagen. Terdapat dua rumah yang akan dijadikan contoh. Rumah tersebut terdiri dari dua lantai dengan kamar tidur di lantai satu yang saling berhadapan. Secara konsep, rumah ramah lingkungan ini hampir sama dengan gedung. Namun, rumah didesain untuk keluarga dan individu. Rasmussen mengatakan, pemerintah Denmark berharap konsep rumah dan gedung ini bisa ditiru oleh berbagai negara.
“Ini konsep rumah yang aktif, di mana dia bisa bekerja sendiri menyesuaikan dengan lingkungannya. Kalau panas rumah ini akan menyejukkan, kalau dingin rumah ini akan menghangatkan,” kata dia.
Ya, mimpi Denmark, khususnya Kopenhagen menjadi kota dengan tingkat karbon netral pada tahun 2025 bukan sesuatu yang mustahil akan tercapai. Kuncinya, kerja sama dan dukungan dari berbagai sektor yang ada.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang