KOPENHAGEN, KOMPAS.com - Ketua Delegasi Republik Indonesia (Delri) Rachmat Witoelar mengakui, hingga tiga hari menjelang berakhirnya pembicaraan para pihak dalam Konferensi PBB soal Perubahan Iklim (COP15), negosiasi yang berlangsung masih alot dan peluang tercapainya kesepakatan semakin berat. Ancaman boikot dari negara G77, China dan beberapa negara berkembang sempat terjadi pada Senin (14/12) lalu.
Hal yang paling menghambat adalah perbedaan kepentingan antara negara berkembang dan negara maju. Untuk memecah kebuntuan, Presiden COP15, Connie Hedegaard menunjuk Rachmat menjadi ketua dalam konsultasi tingkat menteri. "COP15 ini masih berat, kesepakatan akan sukar dilakukan. Peristiwa yang terjadi dalam dua hari ini merefleksikan susahnya negosiasi di sini. Climate Justice (keadilan iklim) sukar diwujudkan dalam satu keputusan. Jadi replika Bali Roadmap berat sekali diwujudkan," kata Rachmat, dalam pemaparan progres negosiasi Delri dihadapan warga Indonesia di COP15, Selasa (15/12/2009) malam, di Bella Centre, Kopenhagen, Denmark.
Suasana yang tercipta di antara para pihak juga tidak sehat. Ada kecurigaan yang dilayangkan kepada negara maju. "Ada situasi, fase yang serius walaupun semua punya niat untuk membela dunia. Tetapi, kalau tidak dikelola dengan baik hasilnya tentu tidak baik. Ini enggak ada angin enggak ada hujan, saya ditunjuk jadi ketua forum konsultasi menteri," kata mantan Menteri Lingkungan Hidup ini, kepada Kompas.com seusai acara.
Meski peluang semakin besar, kemungkinan tercapainya kesepakatan juga masih terbuka. Negosiator ditargetkan menyelesaikan negosiasi pada Rabu (16/12/2009) malam ini, sebelum para kepala negara tiba di Kopenhagen pada Kamis besok. Jika tidak juga dicapai hasil yang menggembirakan, menurut Rachmat, Presiden COP15 telah menyiapkan sejumlah skenario alternatif. "Apa alternatif itu, urusan Presiden COP. Tetapi, pada intinya, secara fundamental negara berkembang menuntut fasilitasi pendanaan dari negara maju untuk mitigasi. Hal ini sebenarnya sudah disepakati lama, tapi ternyata tidak mudah diwujudkan," ujarnya.
Terkait fasilitasi pendanaan upaya mitigasi dan adaptasi pada negara berkembang, belum adanya kesepakatan angka bantuan menjadi kendala utama.
Bagaimana posisi Indonesia?
Memasuki hari-hari krusial menjelang berakhirnya konferensi, Rachmat mengatakan, posisi Indonesia tetap berpegang pada hasil keputusan COP13, Bali Roadmap. "Kalau Indonesia, masih berpegang pada national interest. Kepentingan nasional yang memberikan kepentingan global atau sebaliknya, keputusan global akan mendatangkan keuntungan bagi kepentingan nasional," ungkapnya.
Hasilnya sejauh ini, pihak-pihak pemerintahan terkait yang hadir di Kopenhagen, bekerja cukup maksimal dan bisa membawa "oleh-oleh" pulang ke Tanah Air. Dalam kesempatan itu, sejumlah departemen melaporkan hasil penjajakan kerja sama dan bantuan yang akan didapatkan untuk upaya mitigasi dan adaptasi di Indonesia. "Angkanya masih berkembang terus," ujar Rachmat.
Pada hari Rabu ini, sejumlah negosiasi akan memasuki babak akhir. Delegasi RI sendiri berupaya menyelesaikan perundingan dan melaporkan hasilnya pada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang akan tiba di Kopenhagen pada sore ini waktu Denmark. Dalam rangkaian kehadirannya di COP15, Presiden akan melakukan pertemuan bilateral dengan kepala negara Mexico dan Ukraina. Disamping itu, memenuhi undangan makan malam oleh Kerajaan Denmark dan memberikan pidato dalam High Level Segment.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang