KOMPAS.com — Boeing 787 Dreamliner, pesawat hemat bahan bakar yang semestinya siap sekitar dua setengah tahun yang lalu, akhirnya berhasil melakukan penerbangan uji coba, Selasa (15/12/2009).
Pesawat berbadan karbon ringan dan titanium ini adalah perwujudan harapan agar maskapai bisa menghemat biaya bahan bakar dan perawatan bernilai jutaan dollar. Tadinya, pesawat ini mengahadapi kendala kekurangan baut, desain yang kurang memadai, bahkan para pekerja sempat mogok selama dua bulan.
Namun, Boeing kini telah meluncurkan pesawat tersebut untuk penerbangan pengujian selama empat jam di sekitar Paine Field di Everett, Washington, pukul 10 pagi waktu setempat.
Penerbangan hari ini (16/12/2009) hanyalah ujung awal dari rangkaian ujian yang harus dilakukan pada enam 787 dalam jangka waktu sembilan bulan. Itu merupakan syarat untuk mendapatkan sertifikasi dari Administrasi Penerbangan Federal.
Pimpinan Boeing menyatakan bahwa rangkaian ujian itu akan seperti menjalankan bandara mini karena pesawat-pesawat itu akan lalu-lalang sepanjang waktu.
Rangkaian ujian termasuk melatih menahan posisi di udara, menukik, berbalik dengan tajam, dan juga menguji daya tahan pesawat pada suhu panas dan dingin yang ekstrem.
Namun, para ahli menekankan bahwa pesawat Dreamliner masih jauh dari sempurna.
Richard Aboulafia, analis kedirgantaraan dari firma penelitian Teal Group, mengatakan, "Penerbangan pertama ini sangat diperlukan untuk membuktikan bahwa program pengembangan pesawat ini kembali memiliki jadwal yang jelas. Namun, ini masih jauh dari hasil akhir."
Dreamliner terbukti sangat terkenal di kalangan maskapai penerbangan karena konsep pesawat ukuran menengah yang bisa membawa 250 orang untuk jarak yang sangat jauh pastinya sangat menarik.
Sejak proyek pesawat itu dimulai pada 2004, berbagai maskapai penerbangan telah memesan 840 unit sehingga Boeing mendapat 140 miliar dollar AS.
Namun, lima penundaan produksi yang terjadi dalam tiga tahun terakhir ini, dan juga enam penundaan penerbangan perdana, telah memeras kesabaran para pembeli.
Perusahaan ini telah mengalami masalah dengan bahan baru yang mereka gunakan. Demikian juga dengan penundaan yang disebabkan oleh kekurangan suku cadang dan kesulitan untuk mendatangkan badan dan sayap pesawat dari Jepang, Italia, dan tempat-tempat lainnya di Amerika.
Sementara itu, jajaran Airbus dari EADS Eropa, yang merupakan pesaing 787, telah menarik para pembeli setelah mereka menyelesaikan pesawat A350. Pesawat A350 ini juga didominasi bahan campuran karbon.
Para analis mengatakan bahwa Boeing telah menginvestasi lebih dari 10 miliar dollar AS pada proyek itu, dan juga masih harus membayar kompensasi bagi para pelanggan karena terlambat.
Boeing memperkirakan bahwa 787 Dreamliner pertama akan dikirim ke All Nippon Airways Jepang akhir tahun 2010. Artinya, keterlambatan mencapai hampir dua setengah tahun dari target Mei 2008.
Namun karena memakai serat karbon yang canggih pada badan pesawat, dan ada masalah untuk menggabungkannya dengan bahan lain, bisa dikatakan bahwa kemungkinan besar akan terjadi masalah pada pesawat baru Boeing ini.
Aboulafia menambahkan, "Sebagaimana Boeing diadang masalah sebelum bisa mengadakan penerbangan perdana, maka pasti akan timbul masalah lagi sebelum bisa mendapat sertifikasi."
Namun, Howard Wheeldon, analis transportasi dari BGC Partners, cukup antusias karena pentingnya uji penerbangan ini. Ia bercerita kepada media bahwa Dreamliner sangat revolusioner dan proyek ini akan merombak industri penerbangan.
"Ini adalah pesawat yang mengubah konsep tentang penerbangan karena dilengkapi peralatan canggih," ungkapnya.
Dari segi biaya operasi, karena tergolong ringan—80 persen terdiri dari bahan gabungan, ditambah dengan 35 ton plastik yang diperkuat oleh serat karbon—pesawat ini pasti lebih hemat bahan bakar.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang