Mama Yosepha Alomang Dilarang Lihat Jasad Kelly Kwalik

Kompas.com - 17/12/2009, 10:10 WIB

JAYAPURA, KOMPAS.com — Mama Yosepha Alomang, peraih penghargaan Yap Thiam Hien 1999 Bidang Pembelaan HAM asal Timika, Papua, dilarang melihat jasad Kelly Kwalik di Rumah Sakit Polri Bhayangkara Jayapura. "Saya mau melihat saya punya anak. Ini mama Kwalik. Saya tahu persis Kelly," ujar Mama Yosepha sesaat setelah tiba dari Timika, Kamis (17/12/2009) di ruang tunggu rumah sakit.

Mama Yosepha yang didampingi Pater Joh Jonga (peraih Yap Thiam Hien Award 2009) ingin melihat jasad yang diduga kuat Kelly Kwalik. Seperti diberitakan, Kelly Kwalik tewas ditembak Brimob, personel Satgas Amole, di gorong-gorong Timika pada 16 Desember 2009.

Mama Yosepha ingin memastikan jasad di RS Bhayangkara adalah betul-betul Kelly Kwalik. "Saya bukan pencuri atau perampok. Saya ingin lihat saya punya anak," ujarnya berteriak berkali-kali.

Namun, ini tak mengurungkan polisi untuk melarang siapa pun masuk ke ruang jenazah. Kini, tim forensik dari Jakarta telah tiba di Jayapura. Mereka datang satu rombongan dan sedang berdiskusi dengan Wakil Kepala Polda Papua Brigjen (Pol) Syafei Aksal.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau