Beras Bencana NTT Capai 352 Ton

Kompas.com - 17/12/2009, 19:00 WIB

KUPANG, KOMPAS.com - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Nusa Tenggara Timur (NTT) menyiapkan beras cadangan sebanyak 352,6 ton untuk mengatasi bencana alam.  "Stok beras bencana yang kami siapkan ini sebanyak 352,6 ton," kata Kepala Dinas Sosial Provinsi NTT, Sentianus Medi di Kupang, Kamis (17/12).
   
Total beras yang disiapkan untuk bencana tersebut, kata dia, terdiri dari beras untuk cadangan bencana sebanyak 88,8 ton dan beras rawan pangan sebanyak 63,8 ton.
   
Beras bencana tersebut, katanya, dapat digunakan apabila sewaktu-waktu terjadi bencana di daerah ini, seperti banjir, tanah longsor, angin puting beliung, rawan pangan dan lainnya.  "Beras tersebut bisa digunakan untuk atasi bencana di daerah ini," katanya.
   
Selain itu, lanjutnya, stok beras milik pemerintah provinsi yang berada di Bulog NTT masih sebanyak 200 ton lebih. Beras tersebut juga bisa digunakan untuk mengatasi bencana di daerah ini.
   
Selain beras, katanya, pihaknya juga mendapat bantuan makanan siap saji dari Departemen Sosial (Depsos) seperti mi instan, susu dan pakaian layak pakai.  "Bantuan tersebut telah dikirim oleh Depsos untuk mengatasi bencana di daerah ini," katanya.
   
Sejauh ini, katanya, belum ada permintaan bantuan bagi korban bencana dari kabupaten/kota maupun korban di daerah ini. Walaupun sudah ada laporan tentang bencana yang terjadi seperti longsor yang meinimbun sebuah rumah di Kelurahan Air Mata, Kota Kupang.
   
Dia menambahkan, pihaknya juga menyiapkan personel Taruna Siaga Bencana (Tagana) sebanyak 705 orang yang tersebar di 15 dari 21 kabupaten/kota di NTT. Jumlah anggota Tagana terbanyak di tingkat provinsi mencapai 105 orang, sedang kabupaten/kota rata-rata berjumlah 40 orang.  "Para anggota Tagana merupakan garda terdepan apabila terjadi bencana," katanya.   
   
Karena itu, dia berharap agar Kabupaten Rote Ndao, Manggarai Timur, Nagekeo, Sumba Barat Daya, Sumba Tengah dan Manggarai Timur yang belum miliki Tagana segera membentuknya. "Saya berharap kabupaten-kabupaten itu bisa membentuk Tagana untuk membantu mengatasi bencana di daerah ini," katanya.
   
Bencana yang sering terjadi di NTT antara lain banjir, tanah longsor dan gempa bumi dan rawan pangan.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau