ROMA, KOMPAS.com - Empat hari setelah dirawat akibat serangan seseorang dalam sebuah rapat umum politik , Perdana Menteri Italia, Silvio Berlusconi akhirnya meninggalkan rumah sakit San Raffaele. Ia keluar dengan wajah masih penuh perban.
Penampilan Berlusconi hari ini sangat kontras dengan sebelumnya. Ia yang biasanya murah senyum, kini tampak muram. Seperti diketahui, Berlusconi diserang oleh pemuda bernama Massimo Tartaglia dengan lemparan sebuah patung suvenir Katedral Milan ke wajahnya. Serangan itu membuat hidung sang perdana menteri itu patah, dan dua giginya rompal.
Pria berusia 73 tahun yang pernah melakukan operasi plastik dan rambut transplantasi itu kemarin memakai perban besar yang menutupi bagian dari sisi kiri wajah dan hidungnya ketika ia meninggalkan rumah sakit.
Berlusconi, lewat juru bicara politiknya mengatakan, dirinya akan terus berbuat dengan tekad dan kekuatan. "Aku akan mengingat dua hal tentang hari-hari ini, yakni kebencian dari sebagian orang dan kasih sayang banyak orang Italia," ungkap juru bicaranya.
Meskipun berbeda dalam karakter, menurut Maria Laura Rodota, pengamat politik dan sosial harian Corriere della Sera, penampilan singkat Berlusconi di luar rumah sakit itu terkesan dipentaskan untuk memproyeksikan citranya sebagai orang baik.
"Dia tetap laki-laki di panggung besar," kata Rodota. "Berlusconi yang meninggalkan rumah sakit dengan balutan perban adalah sebuah adegan yang sudah diperhitungkan dengan baik. "
Sebelumnya, Berlusconi memang diperintahkan oleh para dokter agar membatalkan atau mengurangi penampilannya di publik dalam kegiatan Natal. Ia juga diminta agar tidak mengikuti konferensi perubahan iklim di Kopenhagen.
Rodota menilai larangan seperti itu sulit dipenuhi oleh seorang Berlusconi yang punya banyak kegiatan. "Itu bisa merusak moral-nya."
Di sisi lain, ia justru mendapat kesempatan untuk bekerja dengan penampilannya yang baru. Kemarin, pemimpin konservatif itu menghabiskan waktunya selama beberapa jam di sebuah klinik dokter gigi di Milan sebelum menuju ke vilanya di Arcore, di pinggiran kota.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang