YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Meski lawan bermain dengan 10 orang, tidak membuat PSIM Yogyakarta mampu menundukkan Persipro Probolinggo dalam laga kandang Liga Indonesia Divisi Utama di Stadion Mandala Krida Yogyakarta, Jumat (18/12) malam. Hingga peluit akhir dibunyikan, skor PSIM melawan Persipro imbang tanpa gol.
Bahkan, permainan kedua tim cenderung keras. Sepanjang pertandingan Wasit Deri Kuswara menghadiahkan tujuh kartu kuning, masing-masing lima untuk Persipro dan dua PSIM. Wasit juga mengusir A Junaidi dari Persipro lantaran akumulasi kartu.
Pemain Persipro yang memeroleh kartu kuning adalah Edy S pada menit ketiga, A Junaidi (6) dan (28) yang kemudian mengantarkannya pada kartu merah, Hermanto (8), dan Supaham (43). Sedang pemain PSIM yang dihadiahi wasit dengan kartu kuning adalah Hasan Basri L (8) dan Otot Herman P (71).
Sejak babak pertama dimulai penampilan kedua tim terlihat tidak menarik. Tidak nampak serangan membahayakan bagi keduanya. Bahkan, banyak umpan pendek tidak akurat. Tendangan membahayakan pemain Persipro baru tercipta pada menit ke-34, namun mampu ditangkap penjaga gawang PSIM Ony Kurniawan.
Sedang serangan cukup membahayakan PSIM baru terjadi pada menit ke-40, sayangnya bola melenceng di atas mistar gawang Persipro yang dijaga Ahmad Nurrosadi. PSIM baru tampil menekan setelah jeda, tepatnya setelah A Junaidi diusir wasit keluar lapangan. Bahkan, di akhir pertandingan sejumlah penonton dari tribun timur sempat melemparkan batu ke sudut lapangan.
Menyikapi hasil pertandingan Sekretaris PSIM Dessy Arifianto mengatakan anak-anak PSIM tampil kurang bisa lepas. Menurut Dessy meski tim lawan hanya bermain dengan 10 orang namun mereka bisa mengimbangi PSIM.
Sedangkan mengenai permainan yang keras, Assisten Manajer Persipro Probolinggo Haris Nasution mengatakan semua bisa dikendalikan.
Sementara itu Wakil Ketua Panitia Pelaksana Pertandingan Sukamto mengatakan sebelum pertandingan pihaknya sudah melakukan sweeping di pintu masuk untuk menghindari adanya penonton yang membawa barang berbahaya, termasuk batu.
"Apakah batu yang dipakai melempar itu merupakan support dari luar? Kami tidak tahu. Panitia sudah melakukan sweeping. Kami harap pada pertandingan yang akan datang hal itu tidak terulang," ujarnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang