Irak Tuntut Iran Segera Tarik Tentara

Kompas.com - 19/12/2009, 07:32 WIB

BAGHDAD, KOMPAS.com - Pemerintah Irak menuntut Iran segera menarik tentaranya dari satu ladang minyak yang menjadi sengketa di perbatasan kedua negara. Juru bicara pemerintah Irak, Ali Ad-Dabbagh, mengatakan 11 prajurit Iran telah menguasai ladang minyak Al Fakkah di satu daerah terpencil di gurun di Irak Tenggara. Mereka menilai hal ini sebagai pelanggaran terhadap kedaulatan Irak.

"Irak menuntut penarikan segera dari sumur No.4 dan ladang minyak Fakka, yang menjadi milik Irak. Irak sedang mengupayakan penyelesaian diplomatik dan damai bagi masalah ini," katanya.

Ad Dabbagh tak menyebutkan tenggat waktu bagi penarikan tentara itu. Ia juga tak mengatakan apa yang akan dilakukan Baghdad, kalau Iran gagal mematuhi tuntutan tersebut.

Beberapa pejabat telah memanggil utusan Teheran di Irak untuk membahas masalah itu. Mereka mengatakan, tentara Iran telah menyeberang ke dalam wilayah Irak, Jumat, dan mengibarkan bendera Iran di Fakka.

Wakil Menteri Dalam Negeri Irak, Ahmed Ali Al Khajaji mengatakan, penyerbuan itu adalah aksi yang paling akhir pekan ini ke ladang minyak tersebut, sekitar 300 kilometer di sebelah tenggara Baghdad di provinsi Maysan.

"Sekitar pukul 03.30 sore, 11 prajurit Iran memasuki perbatasan Irak-Iran dan menguasai sumur minyak itu. Mereka mengibarkan bendera Iran, dan mereka masih berada di sana," katanya.

Kantor berita Iran, Mehr belakangan melaporkan Perusahaan Minyak Nasional Iran (NIOC) membantah laporan tersebut.
"Perusahaan itu membantah tentara Iran menguasai sumur minyak di mana pun di wilayah Irak," kata NIOC, sebagaimana dikutip Mehr.

Al-Khafaji mengatakan sumur itu berada di wilayah Irak."Sumur ini berada di tanah Irak, 300 meter di dalam wilayah Irak. Ada kesepakatan antara menteri perminyakan kedua negara guna menyelesaikan masalah ini secara diplomatik," katanya.

Seorang insinyur dari perusahaan minyak Maysan, yang mengoperasikan ladang minyak tersebut, mengatakan tentara Iran untuk sementara telah menguasai salah satu dari tujuh sumur minyak di ladang itu, sumur yang tak beroperasi di satu daerah perbatasan yang menjadi sengketa, empat atau lima kali tahun ini.

"Tentara Iran datang ke sumur ini secara berkala, dan kemudian saat fajar mereka mundur. Mereka memancing kami ... saya tidak tahu mengapa ini menjadi masalah besar saat ini," kata insinyur yang tak ingin disebutkan jati dirinya.

Peristiwa itu terjadi beberapa hari setelah Kementerian Perminyakan Irak memberi perusahaan terkemuka energi global kontrak untuk mengoperasikan tujuh ladang minyak dalam tender keduanya sejak serbuan pimpinan AS tahun 2003 silam.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau