Bandung, Kompas - Pemerintah Kota Bandung berencana membangun sistem transportasi massal berupa mass rapid transit (MRT) atau light rail transit (LRT). Dana pembangunan sistem transportasi massal tersebut berasal dari China.
Pada awalnya Wali Kota Bandung Dada Rosada ingin membangun subway sebagaimana tawaran calon penanam modal dari China. Untuk mewujudkan rencana ini, Pemkot Bandung telah menggelar tiga kali pertemuan dengan calon penanam modal. Namun, pada pertemuan keempat yang diadakan di Pendopo Kota Bandung, Jumat (18/12), rencana tersebut berubah.
"Pembangunan subway sangat mahal dan butuh waktu lama. Untuk Kota Bandung sebaiknya membangun MRT atau LRT," kata Prof Zhang Ding Xian, pakar MRT dan LRT dari Universitas Tongji, China.
Zhang datang ke Bandung untuk meneliti kondisi Kota Bandung serta memberikan masukan tentang sistem transportasi massal yang cocok. Zhang memiliki banyak pengalaman terkait dengan MRT dan LRT. Dia terlibat dalam pembangunan proyek serupa di Tokyo, London, dan Singapura.
Dia mengatakan, melihat kondisi Bandung, pembangunan subway akan mengalami banyak kesulitan. Sebab, sudah banyak bangunan yang berdiri di atas lahan yang rencananya digunakan untuk subway. Selain itu, biayanya jauh lebih mahal, sampai 30 kali lipat daripada biaya pembangunan MRT.
Pendapat Zhang tersebut dibenarkan oleh Kepala Dinas Bina Marga dan Pengairan Kota Bandung Rusjaf Adimenggala. "Membangun subway di Kota Bandung sangat sulit, terutama kondisi lahannya," kata Rusjaf.
Setelah berdiskusi selama dua jam, mereka sepakat membangun MRT atau LRT di Kota Bandung. "Bisa juga gabungan antara MRT dan LRT. Ini nanti akan dibicarakan lebih lanjut," kata peneliti dari Universitas Widyatama, Petrina Faustine. Dia diundang Pemkot Bandung untuk memberikan masukan sekaligus menemani Zhang.
Pinjaman lunak
Menurut Petrina, jalur MRT ini mencapai 8 kilometer, yang membentang dari Cibeureum hingga Cicaheum. Angkutan massal ini terdiri dari enam gerbong dengan jalur rel ganda. Dalam satu jam, kendaraan ini diproyeksikan dapat mengangkut 40.000 penumpang.
"Pembangunan infrastrukturnya cukup butuh waktu dua tahun. Bandingkan dengan subway yang butuh waktu sampai tiga tahun," papar Petrina yang juga peneliti pada Regional Observatory of the Information Society in Asia and the Pacific (ROISAP) UNESCO itu.
Mengenai dana, Zhang menjelaskan, Pemerintah China memiliki dana 800 juta dollar AS yang siap digelontorkan pada Pemkot Bandung dalam bentuk pinjaman lunak. Sebagian dana tersebut telah dihibahkan ke beberapa negara di Afrika untuk membantu perbaikan sekolah dan rumah sakit.
Petrina memprediksi dana yang dibutuhkan untuk membangun MRT atau LRT di Kota Bandung sekitar Rp 1,2 triliun. "Saya belum bisa menghitung pastinya, yang jelas lebih kecil dari biaya pembangunan subway," ujarnya.
Menanggapi hal ini, Dada Rosada mengatakan, pihaknya akan mempelajari lebih jauh tawaran pinjaman lunak itu. Dia berharap dana tersebut dihibahkan, bukan dipinjamkan. Alasannya, pengaturan dana hibah jauh lebih mudah daripada dana pinjaman, di samping terbebas dari APBD. (MHF)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang