JAKARTA, KOMPAS.com- Deputi Menko Perekonomian Bidang Perindustrian dan Perdagangan Edy Putra Irawady mengakui penerapan kebijakan perjanjian perdagangan bebas (FTA) berpotensi menurunkan penerimaan negara.
Namun, potensi tersebut diperkirakan hanya sekitar Rp 350 miliar. "Paling ya kita kehilangan sekitar Rp 350 miliar. Kalau dibilang Rp 15 triliun itu enggak bener. Itu hitungannya dari mana. Itu dosa," kata Edy, di Jakarta, Sabtu (19/12/2009).
Pernyataan tersebut sekaligus membantah pernyaaan Dirjen Bea dan Cukai Anwar Suprijadi yang menyebut penerapan FTA berpotensi menurunkan penerimaan negara dari kepabeanan hingga mencapai sekitar Rp 15 triliun.
"Kira-kira potensial loss-nya sampai Rp 15 triliun," kata Anwar, beberapa waktu lalu. Menurut Anwar, penurunan tersebut hanya daari implementasi perdagangan bebas saja. Belum mempertimbangkan kondisi perekonomian. Namun, Edy membantahnya dan menjelaskan bahwa impor rata-rata produk China ke Indonesia per tahunnya sekitar Rp 7 miliar.
Adapun untuk bea masuk barang impor paling besar mencapai 5 persen. "Impor China itu Rp 7 miliar. Kalau bea masuk itu kan paling tinggi hanya 5 persen. Jadi ya paling kita kehilangan Rp 350 miliar," tandasnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang