Dukun Cilik Ponari Laris Lagi

Kompas.com - 20/12/2009, 23:00 WIB

JOMBANG, KOMPAS.com - Ingat Ponari, dukun cilik asal Dusun Kedungsari, Desa Balongsari, Kecamatan Tembelang, Jombang, yang awal 2009 lalu bikin heboh karena kebanjiran puluhan ribu pasien setiap hari? Kini, memasuki bulan Suro, dukun cilik tersebut kembali laris manis.

Sejak Mei lalu, dukun tiban anak pasangan Khamsin dan Mukharomah ini memang merosot pamornya dan sepi pasien. Namun dengan datangnya bulan Suro yang berdasarkan penanggalan Jawa dimulai Jumat (18/12) lalu, bocah berusia 10 tahun ini seakan mendapat berkah.

Rumahnya kembali didatangi banyak pengunjung yang ingin mencari kesembuhan dari penyakitnya. Sebagian besar mereka yang datang percaya pada bulan Suro ini kesaktian Ponari pulih, sehingga penyakit akan sirna jika sang pasien diberi minuman yang dicelupi batu ajaib milik Ponari.

Jumlah pengunjung yang datang ke rumah Ponari, kendati tidak sebanyak pada awal kemunculannya, jumlahnya berlipat ganda jika dibanding beberapa bulan terakhir ini.

Menurut Khamsin, ayah Ponari, sejak akhir Mei lalu pamor anaknya memang meredup, dan jumlah pengunjung menyusut tajam. Sejak itu, dalam satu hari pemilik batu yang menurut cerita Ponari ditemukan saat dirinya disambar petir pada Februari itu, hanya mengobati pasien rata-rata tiga orang per hari.
Namun memasuki bulan Suro ini, Khamsin dan keluarganya kembali sumringah. “Sejak malam 1 Syuro kemarin pengunjung terus berdatangan ke sini,” kata Khamsin kepada Surya, Sabtu (19/12).

Memang, jumlah pasien tidak sampai ratusan orang atau puluhan ribu seperti saat awal kemunculan Ponari yang fenomenal. Jumlah pengunjung yang datang, menurut Khamsin, berkisar 25 sampai 30-an orang.

“Jumlah itu cukup lumayan, dibanding beberapa bulan terakhir yang rata-rata hanya lima pengunjung yang datang,” kata laki-laki usia 40 yang sejak pamor Ponari meredup kembali menekuni pekerjaannya sebagai pencari katak.

Ahmad Roji, 48, salah satu pengunjung warga Tulungagung mengatakan, ia memilih bulan Suro mencari kesembuhan ke rumah Ponari karena pada bulan Suro diyakini keampuhan dukun cilik itu akan kembali seperti sediakala. Begitu minum air celupan batu petir pada bulan Suro, Ahmad Roji yakin penyakitnya akan sembuh.

“Menurut orang Jawa, bulan Suro itu kan penuh kesakralan. Karena itu saya yakin kesaktian batu Ponari akan pulih kembali. Ya, ibaratnya seperti baterei ponsel yang baru saja di-charge,” kata Roji yang kemarin ikut antre bersama sekitar 30-an orang untuk mengobatkan penyakit encok yang lama tak kunjung sembuh.

Seperti diketahui, kisah penemuan batu sebesar kepalan tangan anak-anak berwarna coklat kemerahan oleh Ponari itu agak bernuansa mistis. Ponari dalam ceritanya mengungkapkan, batu itu ditemukan secara tidak sengaja, yakni saat hujan deras mengguyur desanya.

Sebagaimana bocah seusianya, Ponari bermain di bawah guyuran hujan lebat, yang sesekali diiringi suara geledek. Pada saat itu, bersamaan suara petir menggelegar, kepala Ponari seperti dilempar benda keras.
Sejurus kemudian, Ponari merasakan hawa panas menjalar ke seluruh tubuhnya. Bersamaan itu, Ponari merasakan ada batu berada di bawah kakinya. Batu tersebut mengeluarkan sinar warna merah. Karena penasaran, batu itu dibawa pulang, dan diletakkan di meja.

Mendengar cerita Ponari, Kasim (ayahnya) menganggapnya hanya bualan. Bahkan neneknya, Mbok Legi membuang batu itu di rumpun bambu. Namun aneh, ketika nenek kembali ke rumah, batu itu sudah berada di tempat semula. Padahal lokasi rumpun bambu itu berjarak sekitar 100 meter dari rumah.

Beberapa hari kemudian, ada tetangga yang mengalami sakit panas dan muntah-muntah. Tanpa ada yang meminta, Ponari membawa batu ajaib dan memasukkannya ke segelas air putih, kemudian diminumkan pada tetangga yang sakit. Ajaib, beberapa jam kemudian, tetangga tadi sembuh total.

Bermula dari sinilah, kemudian kabar tentang Ponari dan batu ajaibnya cepat beredar dari mulut ke mulut, dan akhirnya setiap hari rumah keluarga Ponari didatangi ribuan pengunjung. Karena praktik pengobatan itu, keaktifan Ponari sekolah di SD Balongsari menjadi agak terganggu.

Tempat praktik pengobatan Ponari sempat ditutup oleh polisi, berdasarkan rapat Muspida yang dipimpin Bupati Suyanto. Hal ini karena makin membeludaknya jumlah pasien serta jatuhnya puluhan korban yang pingsan dan bahkan ada yang meninggal dunia akibat berdesak-desakan. Padahal saat itu pengamanan melibatkan ratusan personel polisi.

Saat itu setidaknya ada dua orang meninggal sebelum sempat diobati oleh sang dukun cilik. Pertama, seorang wanita bernama Nurul yang meninggal saat antre berdesakan, kemudian seorang pasien lelaki asal Blitar. st8

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau