Giliran Pasutri Italia Diculik Jaringan Al Qaeda

Kompas.com - 21/12/2009, 06:26 WIB

MALI, KOMPAS.com - Pasangan suami istri asal Italia dilaporkan diculik saat melakukan perjalanan di Mauritania tenggara. Mereka telah hilang sejak Jumat malam ketika minibus mereka ditemukan kosong dan penuh dengan lubang peluru. Hilangnya pasutri ini tepat tiga minggu setelah tiga warga Spanyol sebelumnya juga diculik di wilayah gurun tersebut.

"Kami berpikir mereka saat ini ada di Mali, namun kami tidak memiliki berita tentang mereka," kata Stefano Manservisi, Direktur Jenderal Komisi Eropa untuk Pembangunan kepada wartawan sela kunjungan resminya di Nouakchott.

Manservisi, yang bertemu dengan pejabat Mauritania termasuk Presiden Mohamed Ould Abdel Aziz mengatakan, ia telah mengomunikasikan hal itu dengan Italia, Mali dan Mauritania untuk mendiskusikan kasus ini.

Sebuah sumber diplomatik di Bamako, ibukota Mali, mengatakan bahwa pasangan itu berada di tangan kelompok jaringan Al Qaeda di Maghreb (AQIM) di suatu tempat di gurun Sahara Sahel.

"Kami menunggu teroris ini untuk secara resmi menyatakan bertanggung jawab atas tindakan ini," kata sang diplomat yang enggan disebut namanya.

Seorang pejabat keamanan Mauritania mengatakan, sangat mungkin pasangan itu diculik oleh kelompok bersenjata. Tapi sejauh ini, pihak berwenang Mauritania belum mengkonfirmasi penculikan. Kementerian luar negeri Italia mengatakan bahwa semua saluran diplomatik dan politik telah digunakan untuk menemukan apa yang terjadi pada pasangan ini.

Menurut media Italia, pasang yang hilang ini diketahui bernama Sergio Cicala (65), seorang pensiunan dari Sisilia, dan istrinya, Philomene Kabouree (39), yang telah meninggalkan Afrika akhir bulan lalu untuk mengunjungi 12 tahun putra berusia di Burkina Faso.

Pengamat intelejen di Mauritania mengatakan, ada kesamaan modus hilangnya tiga warga Spanyol dengan pasangan Italia ini. Menurut laporan saksi dari wisatawan yang dikumpulkan oleh sebuah sumber, para penyerang turun di Italia di malam hari. Mereka kemudian menembak ke udara dan memaksa kendaraan wisatawan untuk berhenti. Mereka lalu membawa pasangan ini pergi, meninggalkan kendaraan dan isinya.

"Modus operasi ini praktis sama dengan tiga warga orang Spanyol yang diculik pada 29 November lalu, yang membuat orang berpikir bahwa itu adalah kelompok teroris yang sama," kata Abou Al Maali, kepada AFP minggu.

"Penculikan telah menjadi bisnis yang menguntungkan sejak Eropa mulai membayar banyak bagi kehidupan para sandera," katanya.

Selama dua tahun, AQIM telah mengklaim serangkaian tindakan mematikan di Mauritania, termasuk pembunuhan pada akhir 2006 terhadap empat warga negara Perancis dan Amerika, pada bulan Juni di ibukota Nouakchott.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau