MALI, KOMPAS.com - Pasangan suami istri asal Italia dilaporkan diculik saat melakukan perjalanan di Mauritania tenggara. Mereka telah hilang sejak Jumat malam ketika minibus mereka ditemukan kosong dan penuh dengan lubang peluru. Hilangnya pasutri ini tepat tiga minggu setelah tiga warga Spanyol sebelumnya juga diculik di wilayah gurun tersebut.
"Kami berpikir mereka saat ini ada di Mali, namun kami tidak memiliki berita tentang mereka," kata Stefano Manservisi, Direktur Jenderal Komisi Eropa untuk Pembangunan kepada wartawan sela kunjungan resminya di Nouakchott.
Manservisi, yang bertemu dengan pejabat Mauritania termasuk Presiden Mohamed Ould Abdel Aziz mengatakan, ia telah mengomunikasikan hal itu dengan Italia, Mali dan Mauritania untuk mendiskusikan kasus ini.
Sebuah sumber diplomatik di Bamako, ibukota Mali, mengatakan bahwa pasangan itu berada di tangan kelompok jaringan Al Qaeda di Maghreb (AQIM) di suatu tempat di gurun Sahara Sahel.
"Kami menunggu teroris ini untuk secara resmi menyatakan bertanggung jawab atas tindakan ini," kata sang diplomat yang enggan disebut namanya.
Seorang pejabat keamanan Mauritania mengatakan, sangat mungkin pasangan itu diculik oleh kelompok bersenjata. Tapi sejauh ini, pihak berwenang Mauritania belum mengkonfirmasi penculikan. Kementerian luar negeri Italia mengatakan bahwa semua saluran diplomatik dan politik telah digunakan untuk menemukan apa yang terjadi pada pasangan ini.
Menurut media Italia, pasang yang hilang ini diketahui bernama Sergio Cicala (65), seorang pensiunan dari Sisilia, dan istrinya, Philomene Kabouree (39), yang telah meninggalkan Afrika akhir bulan lalu untuk mengunjungi 12 tahun putra berusia di Burkina Faso.
Pengamat intelejen di Mauritania mengatakan, ada kesamaan modus hilangnya tiga warga Spanyol dengan pasangan Italia ini. Menurut laporan saksi dari wisatawan yang dikumpulkan oleh sebuah sumber, para penyerang turun di Italia di malam hari. Mereka kemudian menembak ke udara dan memaksa kendaraan wisatawan untuk berhenti. Mereka lalu membawa pasangan ini pergi, meninggalkan kendaraan dan isinya.
"Modus operasi ini praktis sama dengan tiga warga orang Spanyol yang diculik pada 29 November lalu, yang membuat orang berpikir bahwa itu adalah kelompok teroris yang sama," kata Abou Al Maali, kepada AFP minggu.
"Penculikan telah menjadi bisnis yang menguntungkan sejak Eropa mulai membayar banyak bagi kehidupan para sandera," katanya.
Selama dua tahun, AQIM telah mengklaim serangkaian tindakan mematikan di Mauritania, termasuk pembunuhan pada akhir 2006 terhadap empat warga negara Perancis dan Amerika, pada bulan Juni di ibukota Nouakchott.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang