KOMPAS.com - Soe Hok Gie meninggal dunia di kawasan puncak Gunung Semeru (3.676 mdpl), Jawa Timur, pada 16 Desember 1969. Empat puluh tahun kemudian, para pecinta alam dari berbagai kelompok hadir di Gunung Semeru untuk mengenang sosok pemuda brilian, humanis, penuh integritas, jujur, berani, dan gandrung naik gunung tersebut.
Maka selama 13-20 Desember, acara bertajuk Napak Tilas Soe Hok Gie pun digelar di kawasan Gunung Semeru. Adalah Mahasiswa Pecinta Alam Universitas Indonesia (Mapala UI) dan Komunitas Pecinta Alam Malang penyelenggaranya.
Napak Tilas Soe Hok Gie terdiri atas dua acara besar, yakni pendakian massal Gunung Semeru pada 13-17 Desember dan dilanjutkan dengan kemah persahabatan di kaki Gunung Semeru, yakni di kawasan Ranu Regulo, sebuah danau di ketinggian (2.200 mdpl), pada 18-20 Desember.
Sabtu (19/12) di lokasi perkemahan, panitia menggelar acara bincang-bincang. Sebuah panggung ukuran 2 meter x 3 meter setinggi lutut disiapkan untuk narasumber. Audiens dibiarkan bebas mengambil tempat di sekitarnya karena hanya ada empat bangku panjang.
Hadir sebagai narasumber pada kesempatan itu antara lain dua sahabat Soe Hok Gie, yakni Abdurachman dan Herman O Lantang. Keduanya adalah anggota Mapala UI yang ikut mendaki bersama Soe Hok Gie pada pendakian terakhir almarhum.
Awak film Gie, hadir pula menjadi narasumber. Mereka adalah Riri Riza (sutradara), Mira Lesmana (produser), Nicholas Saputra (aktor utama), dan Lukman Sardi (aktor pembantu).
Di bawah terang lampu yang energinya dialirkan dari generator, para sahabat menceritakan pengalaman mereka tentang Soe Hok Gie. Sementara Riri Riza dan kawan-kawan bercerita tentang sosok Soe Hok Gie yang inspiratif.
Di sekitar panggung, peserta kemah yang umumnya baru sebatas pernah mendengar kisah Soe Hok Gie, mendengarkan dengan saksama. Entah apa dalam benak mereka setelah tutur kisah para narasumber.
Di bangku audiens terdepan, duduk empat kakek berusia di atas 70 tahun, yakni Jurawi, Kasimin, Petir, dan Ponari. Mereka adalah empat dari 12 warga Desa Ranu Pani yang mengevakuasi mayat Soe Hok Gie dan Idan Lubis, 40 tahun silam.
Menurut Jurawi, dari 12 warga tersebut kini tinggal lima orang yang masih hidup. Seorang lagi, yakni Tumari tidak hadir dalam acara itu.
Di akhir acara, panitia menyerahkan piagam ucapan terima kasih kepada mereka atas peran serta dalam proses evakuasi Soe Hok Gie. "Dulu (waktu mengevakuasi) cuma kerja bakti. Tidak ada apa-apanya," kata Kasimin.
Untuk mengenang Soe Hok Gie pada malam itu, para sahabat, murid didik, adik kelas, pengagum, sampai orang-orang yang mengevakuasi jenasahnya hadir. Di kaki Semeru, mereka berbagi keteladanan yang makin sulit dicari sosoknya di zaman ini.
Napak Tilas Soe Hok Gie, dari sisi partisipasi, boleh meleset jauh dari harapan. Dari target 500 peserta, pendakian masal hanya diikuti 54 peserta dan 31 orang panitia. Dari target 2.000 peserta kemah persahabatan, hanya sekitar 200 orang yang ikut ambil bagian.
Suasana berkabung pun boleh dan selayaknya mewarnai kegiatan menyusul insiden meninggalnya seorang peserta pendakian masal akibat kelelahan di Ranu Kumbolo (2.400 mdpl). Peserta itu adalah Muamar Hanafi (22), mahasiswa STKIP Jombang, Jawa Timur .
Tapi apa pun, acara tetap berjalan dan Soe Hok Gie tetaplah Soe Hok Gie. Ia tetaplah figur yang fenomenal dan inspiratif untuk sahabat-sahabatnya dan orang-orang yang ingin menyelami sikap dan pandangan hidupnya.
Dalam bahasa Riri Riza, Soe Hok Gie adalah orang dengan kombinasi yang jarang dimiliki rata-rata orang. Ia tidak saja intelektual yang kritis dan idealis serta penuh integritas, tetapi juga merasakan denyut penderitaan masyarakat secara langsung.
"Saat ini banyak politisi muda. Tapi apakah mereka benar-benar mengetahui persoalan mendasar bangsa ini. Apakah mereka benar-benar hidup di tengah-tengah masyarakat dan merasakan denyut kehidupan masyarakat. Alangkah indahnya Indonesia jika ada pemimpin-pemimpin seperti Soe Hok Gie," kata Riri.
Di puncak Semeru, 40 tahun silam , Soe Hok Gie meninggal dunia pada usianya yang baru 27 tahun. Tapi Indonesia hari ini, masih butuh kejujuran, keberanian, integritas, dan rasa nasionalisme yang bobotnya seberat apa yang telah ditunjukkan pemuda itu.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang