Karena Miss.V Terlalu Basah

Kompas.com - 21/12/2009, 13:05 WIB

KOMPAS.com - Seorang istri menjadi takut berhubungan intim karena suami sering mengeluhkan vaginanya yang terlalu basah. Ia sampai takut mengonsumsi buah-buahan tertentu karena khawatir vaginanya menjadi makin basah.

"Saya seorang istri berumur 33 tahun, sudah empat tahun menikah, dan punya satu orang anak. Selama menikah, suami beberapa kali mengeluhkan vagina saya yang katanya, terlalu basah. Saya jadi tidak enak dan kadang-kadang merasa takut waktu akan berhubungan intim. Takut suami mengeluh lagi.

Saya pernah membaca iklan mengenai ramuan tradisional untuk mengeringkan kelamin wanita. Terus terang, saya ragu membelinya karena takut berbahaya bagi kelamin saya. Saya mohon penjelasan, apakah normal kalau vagina saya terlalu basah, seperti kata suami saya?

Adakah obat yang dapat membuat agar kelamin saya tidak terlalu basah? Saya sudah tidak mau makan buah-buahan seperti pepaya, nanas, dan semangka, meski tidak ada perubahan.
W.S, Medan

Perlendiran = reaksi normal
Perlendiran vagina merupakan reaksi normal yang terjadi pada perempuan sehat ketika mengalami rangsangan seksual. Banyak tidaknya perlendiran vagina dipengaruhi dua faktor berikut. Pertama, kuat tidaknya rangsangan yang diterima.

Kedua, keadaan kesehatan perempuan, khususnya yang berkaitan dengan pembuluh darah dan hormon seks. Kalau seorang perempuan tidak cukup menerima rangsangan seksual, reaksi perlendiran vaginanya sedikit atau mungkin tidak terjadi.

Demikian juga kalau mengalami gangguan pembuluh darah, yang mengakibatkan aliran darah ke pembuluh darah di vagina terhambat. Menurunnya hormon seks seperti estrogen dan testoteron juga mengakibatkan perlendiran vagina berkurang atau terhambat. Karena itu, pada perempuan menopause terjadi hambatan perlendiran vagina.

Kalau Anda ternyata mengalami perlendiran vagina ketika terangsang dan melakukan hubungan seksual, itu berarti sesungguhnya Anda normal. Sayangnya, suami mengeluh "terlalu basah" yang tentu mengganggu perasaan Anda sebagai perempuan.

Mudah dimengerti kalau Anda merasa takut melakukan hubungan seksual. Mungkin juga muncul perasaan seperti rendah diri atau kurang percaya diri, yang kalau berlangsung lama dapat mengganggu fungsi seksual Anda.

Menghadapi keluhan suami yang subjektif itu, paling tepat kalau Anda memberitahu bahwa perlendiran vagina merupakan reaksi normal pada perempuan sehat. Artinya, tidak harus dihambat atau ditiadakan. Justru kalau dihambat atau dikurangi, hubungan seksual terganggu oleh rasa tidak nyaman.

Bukan tidak mungkin suami terpengaruh berita salah atau mitos tentang seks yang berkaitan dengan perlendiran vagina. Contohnya, mitos yang menyebutkan ada wanita yang "becek", ada yang "kering". Demikian juga mitos tentang beberapa buah-buahan dapat menyebabkan perlendiran vagina banyak.

Itu semua tidak benar. Jadi Anda tidak perlu sampai tidak memakan buah-buahan, hanya karena takut mengalami perlendiran vagina yang banyak, seperti keluhan suami. Anda juga tidak usah terpengaruh iklan yang menawarkan ramuan untuk mengurangi lendir vagina. Sepanjang perlendiran itu terjadi ketika Anda terangsang, itu normal dan sehat.

Kalau terasa mengganggu ketika melakukan hubungan seksual, barangkali cukup hanya dengan membersihkan lendir itu.

Konsultasi dijawab oleh Prof.Dr.Wimpie Pangkahila, Sp.And

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau