Jauhi Penyakit dengan Melahap Serat

Kompas.com - 22/12/2009, 11:44 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - SIAPA yang tak doyan melahap makanan cepat saji? Selain mudah mendapatkannya, lazimnya makanan yang biasa disebut junkfood ini terkenal lezat. Tidak hanya itu, jenis sajiannya pun beragam dengan harga yang terjangkau isi dompet. Dengan berbagai kelebihan itu, penganan ini menjadi bagian hidup masyarakat urban.

Namun, Anda yang terbiasa mengonsumsi makanan ini tak boleh lengah. Terlalu banyak mengonsumsi junkfood berefek buruk bagi kesehatan. Selain banyak mengandung bahan kimia, junkfood umumnya juga tidak mengandung cukup gizi bagi tubuh.

"Yang lebih penting lagi, junkfood tidak mengandung serat makanan," kata Susianto, pakar gizi dari Indonesia Vegetarian Society (IVS).

Tak heran, berbagai penelitian menyebutkan bahwa banyak warga masyarakat di kota-kota besar di seluruh dunia - terutama orang yang selalu sibuk dengan pekerjaan - umumnya kekurangan serat. Padahal, rata-rata, kebutuhan serat setiap manusia hanya 25 gram sampai 40 gram per hari.

Jumlah segitu sebetulnya terbilang sedikit. Nyatanya, tak banyak orang perkotaan yang mampu memenuhi kebutuhan serat. Di Indonesia, "Warga Indonesia baru mampu memenuhi kebutuhan serat sekitar 10 gram-15 gram per hari. Warga perkotaan lebih rendah lagi," ujar dia.

Padahal, serat makanan sangat mudah didapat dari sayur-mayur dan buah-buahan. Dalam jumlah yang cukup, serat berpengaruh bagi pencernaan. Yakni, meningkatkan kinerja usus dalam mencerna makanan. Gizi makanan bisa terserap sempurna, sedang sisa-sisa dari proses pencernaan bisa melewati usus untuk dibuang.

Dari kanker, jantung, sampai diabetes
Cuma, karena pola makan yang tak seimbang, pasokan serat makanan berkurang. Akibatya, proses pencernaan tidak berlangsung normal. "Alhasil, sisa makanan sulit sulit keluar dari usus dan bisa mengakibatkan sembelit," kata Susianto.

Dalam jangka waktu yang lama, bukan hanya sembelit saja yang akan timbul. Sisa makanan yang tertinggal dalam usus itu pun akan menimbulkan peradangan atau infeksi usus. Bila hal ini terjadi, Anda bisa bersiap-siap masuk rumah sakit lantaran berbagai penyakit bisa timbul.

Berbagai penyakit itu, antara lain, kanker usus dan anus hingga penyakit jantung. Penyakit kanker usus, misalnya, timbul karena usus mengalami infeksi akibat bekerja ekstrakeras sewaktu mencerna makanan yang kurang serat.

Dalam catatan National Cancer Institute, sepertiga kematian akibat kanker usus disebabkan oleh pola makan yang salah karena tak menghitung kebutuhan serat. Kekurangan serat juga memicu hemoroid atau wasir. Akibat minus serat, feses yang merupakan sisa hasil proses pencernaan menjadi keras. Akibatnya, "Usus yang ada di dekat anus membengkak karena dipaksa mengeluarkan feses keras," kata Susianto. Inilah yang menjadi cikal bakal kanker anus.

Serat dalam takaran yang pas sejatinya bisa mengikis lemak. Makanya, orang yang kekurangan serat akan mudah mengalami obesitas atau kegemukan.  "Tanpa serat, jumlah lemak akan terus bertambah dan semakin menumpuk di bagan," imbuh Haryati, ahli gizi Rumahsakit Mediros, Jakarta Pusat.

Selain itu, penumpukan lemak juga akan meningkatkan jumlah kolesterol. Kolesterol yang terlalu banyak akan menutup pembuluh arteri. Akibatnya, penyakit jantung pun tak akan terelakkan lagi. "Selain penting bagi pencernaan, serat makanan juga mampu menurunkan kadar kolesterol," tandas Haryati.

Serat makanan pun membantu menurunkan kadar gula dalam darah. Serat bisa menurunkan kadar trigliserida darah, sehingga kadar gula jadi berkurang. Makanya, bila kurang serat, penyakit diabetes bisa timbul pula. "Karena itu, banyak ahli menyarankan penderita diabetes melakukan diet kaya serat agar gula darahnya menurun," ajar Haryati.  (Adi Wikanto)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau