Kisah Buron Teroris Baridin (4)

Kompas.com - 26/12/2009, 07:16 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Usmani alias Baridin alias Bahrudin Latif selama berdomisili di Kampung Banyuasih, Desa Pamalayan Kecamatan Cikelet Kabupaten Garut, selain berprofesi penyadap kelapa untuk gula merah, juga dikenal warga setempat ahli listrik.

Mertua Noordin M. Top itu, terbukti pandai memperbaiki instalasi listrik rumah warga, seperti pernah dialami Pendi Supendi, Ketua RT.05/10. Instalasi listrik di rumahnya sempak rusak akibat gempa bumi berkekuatan 7,3 SR pada 2 September lalu, dan Baridin berhasil memperbaikinya.

Padahal, sebelumnya Pendi berniat memanggil tukang listrik, namun Baridin menawarkan jasa perbaikan. "Setelah diberi kesempatan untuk mengerjakannya, listrik pun bisa menyala sampai sekarang, meski awalnya tak percaya," katanya.

Sementara menurut Erlan Suherlan, Ketua RT 03/10 Kampung Banyuasih, selama ini Baridin yang dikenalnya sebagai sosok yang pendiam, namun sangat ramah kalau disapa orang lain. Selama ini, Baridin tidak pernah sekali pun membicarakan masalah politik atau teroris. Begitu pun ketika warga ramai-ramai membicarakan bom JW Marriot dan Ritz Carlton belum lama ini, Baridin sekali pun tidak pernah nimbrung atau ikut bicara.

"Saat itu kami mengira memang dia orangnya pendiam," kata Erlan.

Saat Noordin M Top tewas tertembak peluru petugas, Baridin juga masih pintar menyembunyikan ekspresinya. Saat itu, dia sama sekali tidak tertarik untuk membahas masalah itu, meskpipun orang sekampung hangat membicarakan tewasnya Noordin M Top.

"Jangankan tertarik bicara politik dan teroris, dia malah nanya sama saya, teroris itu apa," ujar Erlan menirukan perkataan Baridin.

Buronan Densus 88 itu, selama ini dinilai pula banyak membantu masyarakat sebagaimana diungkapkan oleh Firoh, karena rajin mengajar anak-anak mengaji Al Quran setiap usai shalat magrib, bahkan rajin shalat berjamaah bersama warga sekitarnya.

"Namun Kamis lalu (24/12), masyarakat secara mendadak sontak dihebohkan informasi tentang sosok yang banyak membantu warga itu, ternyata mertua Noordin M. Top dan diciduk tim khusus anti teror Densus 88 Polri," katanya.

Baridin pun dikabarkan pernah menjalani pendidikan dan latihan militer di Afghanistan selama dua tahun (1989-1990), atau hanya berselisih dua angkatan dengan Ali Imron adik Amrozi, pelaku teroris lain yang telah dieksekusi mati. Kini umumnya warga Cikelet merasa kesal dan ngeri jika mengingat keberadaan Baridin selama ini di wilayahnya. (ANT)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau