MUI Samarinda Tolak Film Suster Keramas

Kompas.com - 27/12/2009, 02:48 WIB

SAMARINDA, KOMPAS.com--Majelis Ulama Indonesia (MUI) Samarinda menolak pemutaran film "Suter Kramas" yang rencananya akan ditayangkan secara serentak di berbagai daerah menjelang pergantian tahun pada 31 Desember mendatang.

"Kami menolak pemutaran film Suster Kramas yang akan diputar di Samarinda," kata Ketua MUI Samarinda KH. Zaini Naim kepada ANTARA di Samarinda, Sabtu.

Film yang dibintangi bintang porno Jepang, Rin Sakuragi, pengganti Miyabi tersebut direncanakan akan diputar serentak di bioskop di seluruh Indonesia pada malam tahun baru.

"Tidak ada nuansa pendidikan pada film itu tetapi justru dapat merusak moral generasi muda. Sudah bisa dipastikan bahwa jika film itu diputar, penontonya didominasi oleh kalangan remaja," kata Zaini Naim.

Film garapan Maxima Picture tersebut menggambarkan kedatangan seorang gadis Jepang ke Indonesia untuk mencari saudaranya yang bekerja sebagai perawat.

Persoalan yang kemudian banyak menuai kecaman adalah film horor yang dibintangi gadis kelahiran Hyogo, Jepang, pada 03 Maret 1989 itu tidak terlepas dari adegan porno yang diperankan Rin Sakuragi.

Pada salah satu adeganya, pengganti Miyabi itu terlihat memamerkan kemolekan tubuhnya pada dua pemuda.

"Film ini tidak layak ditonton, pasalahnya hanya memamerkan aurat wanita sehingga MUI meminta pihak terkait di Samarinda melarang pemutaran film itu" katanya.

Ia menambahkan selain menghimbau agar mmasyarakat agar tidak menonton film itu, juga pihaknya akan meminta pihak terkait yang memiliki kewenangan agar melarang pemutaran film itu di Samarinda.

Manajer Studio 21 Samarinda Central Plasa, Bono mengatakan bahwa belum menerima pemberitahuan tentang rencana pemutaran film Suster Keramas tersebut.

"Hingga saat ini (Sabtu) saya belum mendengar rencana pemutaran film itu di Studio 21 SCP," ungkap Bono.

Salah seorang warga Samarinda, Rzal, mengaku belum mengetahui adanya film porno yang dibintangi Rin Sakuragi.

"Setahu saya, yang selama ini digembar-gemborkan film itu akan dibintangi Miyabi dan katanya batal dibuat. Kami berharap film itu bisa diputar di Samarinda persis dimalam tahun baru agar warga tidak berkumpul di satu tempat saja," ujar Rizal.

Warga lainnya, Sari mengaku, dirinya tidak tertarik dengan film berbau porno.

"Saya sudah membaca di koran kalau film merupakan film porno dan akan di putar di berbagai bioskop pada 31 Desember 2009. Saya tidak berminat menonton karena film itu bukan tontonan yang dapat memberi manfaat. Leih baik merayakan tahun baru di rumah bersama keluarga," ujar Sari.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau