JAKARTA, KOMPAS.com — Novarina, istri terdakwa Wiliardi Wizar, mengungkapkan adanya dugaan rekayasa dalam penanganan perkara pembunuhan Direktur PT Putra Rajawali Banjaran, Nasrudin Zulkarnaen, oleh pejabat Mabes Polri dan Polda Metro Jaya.
Hal itu diungkapkan Nova dalam sidang terdakwa Antasari di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Selasa (29/12/2009). Dia dihadirkan pihak Antasari sebagai saksi.
Dalam kesaksian di hadapan ketua majelis hakim Harri Swantoro, Nova menyebutkan tiga pejabat Polri. Nova menceritakan saat awal penangkapan suaminya di Polda. Saat itu, dia menemui suaminya setelah Wiliardi melakukan pertemuan dengan Wakabareskrim Mabes Polri, Irjen Hadiatmoko.
"Setelah pertemuan itu saya ketemu suami. Saya tanya ke suami, Wakabareskrim bicara apa. Suami saya jawab, Pak Wakabareskrim bilang, 'Tolong bantu pimpinan, kalau ada penyidik diikutin aja. Ngomong aja ada perintah (membunuh) dari Antasari. Tapi saya enggak mau melakukan dan saya suruh orang lain'," ucap Nova.
Setelah pertemuan itu, pada hari yang sama dia dan suaminya melakukan pertemuan dengan Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Kombes Iriawan.
"Di situ ada tiga penyidik lain. Pak Iwan bilang ke saya, 'Ini kan targetnya Antasari. Ya sudahlah nanti kita bantu'. Saat itu suami saya tanda tangani BAP (berita acara pemeriksaan)," ucap dia.
Nova lalu menceritakan pertemuan lain dengan Kabareskrim saat itu, Komjen Susno Duadji. Selain dirinya, ikut dalam pertemuan yaitu suaminya, Hadiatmoko, Iriawan, dan penyidik lain. Kepada Wiliardi, Susno mengatakan, "Ya sudah Dik (adik), kamu enggak dipecat. Gini loh Dik, yang penting kalau Antasari bebas kamu juga bebas. Kalau Antasari bebas jangan sampai kamu dihukum berat," jelas Nova menirukan perkataan Susno.
Saat berkas perkara hampir lengkap (P-21), ucap Nova, suaminya menceritakan kepadanya bahwa penyidik Polda meminta agar Wiliardi kembali ke BAP awal.
"Aku diminta supaya ada perintah itu (membunuh Nasrudin)," tutur Nova menirukan pengakuan Wiliardi.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang