JAKARTA, KOMPAS.com - Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Din Syamsuddin mengatakan duka atas meninggalnya mantan presiden Abdurrahman Wahid yang akrab dipanggil Gus Dur. Menurutnya kepergian Gus Dur adalah kehilangan besar bagi umat Islam dan bangsa Indonesia.
Din mengatakan selama hidupnya Gus Dur telah menampilkan peran tertentu dan memberikan jasa bagi bangsa Indonesia. Walaupun Gus Dur sering bersikap kontroversial, lanjut Din, tetapi banyak pula idenya yang bermanfaat terutama pengembangan atas perlunya kemajemukan dan penguatan demokrasi.
"Saya berharap hilangnya seorang tokoh umat dan tokoh bangsa, maka akan segera tergantikan dengan munculnya tokoh-tokoh lain, khususnya di kalangan umat Islam," demikian Din Syamsuddin.
Gus Dur meninggal Rabu (30/12/2009) sekitar pukul 18.45 WIB di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta setelah sempat mendapat perawatan selama beberapa hari. Putra pertama dari enam bersaudara itu lahir di Desa Denanyar, Jombang, Jawa Timur, pada 4 Agustus 1940. Ayah Gus Dur, KH Wahid Hasyim, adalah putra pendiri organisasi terbesar Nahdlatul Ulama (NU) KH Hasyim Asy'ari. Sedangkan ibunya bernama Hj Sholehah, adalah putri pendiri Pesantren Denanyar Jombang, KH Bisri Syamsuri. Gus Dur menikah dengan Sinta Nuriyah dan dikaruniai empat putri yaitu Alissa Qotrunnada Munawaroh, Zannuba Arifah Chafsoh (Yenni), Annita Hayatunnufus, dan Inayah Wulandari.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang