Gus Dur Ubah Karakter Bangsa Menjadi Lebih Demokratis

Kompas.com - 31/12/2009, 10:23 WIB

JEMBER, KOMPAS.com — Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kabupaten Jember, Jawa Timur, mengusulkan almarhum Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sebagai pahlawan nasional.
    
"Pemberian gelar pahlawan nasional untuk menghormati jasa mantan Presiden RI itu," kata Ketua PMII Jember Abdurrahman Bin Auf, Kamis (31/12/2009).
    
Menurut dia, Gus Dur adalah guru bangsa yang berpihak kepada kepentingan masyarakat minoritas dan perjuangan untuk mewujudkan demokrasi di Indonesia tak pernah lelah disampaikan. "Gus Dur telah mengubah karakter bangsa Indonesia menjadi bangsa yang berjiwa demokratis dan menghormati kebebasan berpendapat," tuturnya.
    
Keluarga besar PMII Jember, kata dia, merasa sangat kehilangan figur pemimpin bangsa yang selalu ramah kepada siapa pun. "Beliau adalah tokoh NU yang menjadi panutan bangsa Indonesia karena pemikirannya yang cerdas dan membawa perubahan demokrasi lebih baik di Indonesia," ujarnya.
    
Ia mengimbau kepada masyarakat untuk mengibarkan bendera setengah tiang sebagai tanda berkabung untuk almarhum Gus Dur. "Saya berharap, pemerintah mengumumkan Rabu sebagai hari berkabung nasional untuk menghormati jasa Gus Dur," katanya.
    
Bendera setengah tiang dikibarkan warga Jember serta semua instansi pemerintah dan swasta untuk menghormati almarhum Gus Dur dan sebagai tanda ikut berdukacita atas meninggalnya guru bangsa Indonesia.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau