Bendera Setengah Tiang Berkibar pada Tahun Baru

Kompas.com - 01/01/2010, 10:40 WIB

BANDUNG, KOMPAS.com — Imbauan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kepada masyarakat Indonesia untuk mengibarkan bendera setengah tiang selama sepekan sebagai tanda berkabungnya bangsa ini atas berpulangnya Presiden ke-4 RI, KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, tidak hanya tampak di Jakarta, tetapi juga di Bandung.

Sejumlah kantor dan rumah di Kota Kembang itu tampak masih mengibarkan bendera setengah tiang. Pada hari pertama awal tahun 2010, duka itu masih menyelimuti. Berita meninggalnya Gus Dur, panggilan akrab KH Abdurrahman Wahid, disusul dengan kabar duka meninggalnya Frans Seda, mantan menteri di era Orde Baru dan Orde Lama.

Di Purwakarta, kota yang berdekatan dengan Bandung, juga tampak berkibar bendera Merah Putih setengah tiang. Menurut Slamet, salah satu warga setempat, imbauan dari RW setempat untuk mengibarkan bendera setengah tiang sejak berita duka tersebut didengar warga.

"Memang sudah ada imbauan sebelumnya," ujar dia, Jumat (1/1/2010).

Tokoh warga setempat juga telah mengimbau untuk tidak merayakan Tahun Baru secara berlebihan. Praktis tidak terdengar keramaian sepanjang pergantian Tahun Baru kemarin.

"Warga sudah tahu jadi tidak ada yang merayakan, hanya beberapa saja," tandasnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau