Pangeran Saud: Israel Bertingkah seperti Anak Manja

Kompas.com - 03/01/2010, 09:19 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Berkat perlakuan istimewa masyarakat internasional, Israel bertingkah seperti anak manja dan membuat pembicaraan perdamaian Timur Tengah macet. Demikian pendapat Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Pangeran Saud Al-Faisal, Sabtu (2/1/2010).

"Kami tak dapat mencapai penyelesaian dengan perlakuan pilih kasih yang diperoleh Israel," kata Pangeran Saud pada suatu taklimat ketika menjawab pertanyaan mengenai dimulainya kembali pembicaraan perdamaian dengan Palestina.

Di dalam masyarakat internasional, Israel telah menjadi seperti anak yang dimanja, kata Pangeran Saud, setelah mengadakan pembicaraan dengan timpalannya dari Turki, Ahmed Davutoglu, yang meliputi pembahasan luas masalah Palestina-Israel.

Kedua menteri luar negeri tersebut menyeru Israel agar menghentikan perluasan permukiman guna memungkinkan pembicaraan dilanjutkan.

"Mesti ada pembekuan permukiman di semua wilayah pendudukan dan terutama di Jerusalem timur," kata Davutoglu sebagaimana dikutip.

Kedua menteri itu, yang negara mereka telah memainkan peran penting dalam upaya meluncurkan kembali proses perdamaian, menyerukan masyarakat internasional agar "melakukan tindakan serius dan tegas" terhadap kebijakan permukiman Israel.

Kebijakan pemerintah Israel itu tentu saja menimbulkan keraguan mengenai kesungguhan negara Yahudi tersebut dalam proses perdamaian, kata Pangeran Saud.

Dia juga mengatakan, standar ganda internasional yang sudah sejak lama diperlihatkan pendukung utama Israel—Amerika Serikat—telah memungkinkan Israel lolos dari kasus kejahatan perang.

"Negara lain yang melanggar hukum internasional dibiarkan tanpa hukuman," kata Menteri Luar Negeri Arab Saudi tersebut, sebagaimana dilaporkan AFP.

Israel, bersama dengan kelompok gerilyawan Palestina—Hamas, telah dituduh melakukan kejahatan perang dan kemungkinan kejahatan terhadap umat manusia selama agresi 22 hari militer Yahudi ke Jalur Gaza pada Desember 2008 sampai Januari 2009.

Namun tak seorang pun, baik dari pihak Hamas apalagi dari Israel, yang diseret ke pengadilan atau dihukum atas kejahatan yang telah mereka lakukan.

Serangan tersebut, yang dimulai pada 27 Desember 2008 sampai pertengahan Januari 2009, menewaskan 1.400 orang Palestina—termasuk lebih dari 400 orangtua, wanita, dan anak-anak—dan 13 orang Yahudi.

Pembahasan Arab Saudi-Turki mengenai masalah Palestina itu dilakukan empat hari setelah Presiden Palestina Mahmud Abbas dan Raja Arab Saudi Abdullah mengadakan pembicaraan mengenai masalah yang sama, dan sebelum kunjungan yang diduga dilakukan ke wilayah tersebut oleh utusan perdamaian AS mengenai Timur Tengah, George Mitchell.

Mitchell diduga akan membawa surat rancangan jaminan kepada Israel dan Pemerintah Otonomi Palestina bahwa Washington berharap akan dapat membuat pembicaraan itu berlangsung lagi.

Seriuskah?
Washington menghadapi "tekanan" dari para pendukung Palestina, termasuk sekutu utama AS di Jazirah Arab, Arab Saudi, dan Mesir, agar mengambil sikap yang lebih tegas terhadap Israel dan kebijakan permukimannya.

Palestina dan pendukungnya berkeras terhadap berlanjutnya pembangunan dan perluasan permukiman Israel telah menghalangi upaya mulai awal tahun lalu guna memulai kembali perundingan perdamaian, yang diharapkannya akan mewujudkan berdirinya negara Palestina merdeka.

Namun, nasib pembicaraan perdamaian Palestina-Israel tetap suram, terutama sejak Benjamin Netanyahu kembali menduduki kursi perdana menteri Israel.

Pemimpin perunding Palestina Saeb Erakat, dalam satu wawancara dengan kantor berita transnasional, mengatakan, ia akan segera melanjutkan pembicaraan perdamaian dengan Israel jika Tel Aviv membekukan semua pembangunan permukiman di wilayah pendudukan.

"Erakat siap melanjutkan dari tahap kami tinggalkan (bersama mantan Perdana Menteri Ehud Olmert)," kata Erakat kepada harian Austria, Kurier, Rabu (23/12/2009).

"Kalau Perdana Menteri hawkish Benjamin Netanyahu, yang memangku jabatan pada Maret 2009, bersedia, saya akan berada di rumahnya pada hari yang sama", kata Erakat sebagaimana dikutip.

Namun, Erakat kembali menyatakan, pembicaraan yang terhenti selama serangan Israel ke Jalur Gaza pada penghujung Desember 2008 hanya dapat dilanjutkan segera setelah Israel "sepenuhnya menghentikan" pembangunan permukiman di wilayah Palestina yang didudukinya.

Kemacetan dalam proses perdamaian juga terjadi di jalur Suriah-Israel. Presiden Suriah Bashar Al-Assad mengatakan, pembicaraan perdamaian dengan Israel telah macet karena Israel tak tertarik untuk mewujudkan perdamaian.

Tuntutan Israel bagi perundingan tanpa syarat berarti Tel Aviv ingin meruntuhkan proses perdamaian, kata Bashar setelah pembicaraan dengan Perdana Menteri Turki Tayyip Erdogan di Damaskus, sebagaimana dilaporkan Reuters, Rabu (23/12/2009).

"Kami membahas cara membawa proses perdamaian keluar kebuntuan yang telah dihadapinya ... akibat tak adanya mitra serius Israel yang bertujuan mewujudkan perdamaian," kata Bashar pada suatu taklimat bersama Erdogan, sebagaimana dikutip.

"Ketika Israel menyatakan negara tersebut mengingini perundingan tanpa syarat, itu berarti negara Yahudi tersebut mengingini perundingan tanpa landasan. Ini seperti membangun gedung tanpa fondasi, lalu bangunan itu sangat mudah diruntuhkan dan mereka ingin meruntuhkan proses perdamaian," kata Presiden Suriah tersebut.

Pembicaraan perdamaian Israel dan Suriah juga macet pada 2000 sehubungan dengan tuntutan Damaskus bagi penarikan penuh Isral dari Golan, dataran tinggi strategis yang direbut Israel dalam perang 1967 dan belakangan dicaploknya.

Di bawah kekuasaan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, Israel telah mengesampingkan dilanjutkannya pembicaraan yang diperantarai Turki dengan Suriah, dan berkeras bahwa setiap kontak baru harus berlangsung.

Hubungan antara Turki dan Israel sendiri berubah suram setelah Israel melancarkan serbuan tiga pekan ke Jalur Gaza pada akhir Desember 2008, dan Erdogan mengatakan, Israel tak lagi memercayai Turki untuk menengahi pembicaraan perdamaian dengan Suriah.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau