YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah Provinsi DIY mengaku tidak mampu mengantisipasi kenaikan harga gula. Padahal, kenaikan harga gula pasir hingga menembus angka Rp 12.000 per kilogram berdampak signifikan terhadap inflasi di sektor makanan dan minuman.
Pelaksana Harian Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan UKM DIY, Astungkoro menuturkan, Pemerintah Provinsi DIY tidak mampu mengatasi kenaikan harga gula pasir, termasuk dengan cara menyelenggarakan pasar murah seperti sebelumnya. "Kami sudah bicara dengan para distributor gula. Stok gula masih ada, tapi soal harga memang tidak bisa dikendalikan," katanya, Senin (4/1/2010).
Dari pertemuan dengan para distributor gula, lanjut dia, muncul kesimpulan bahwa harga gula baru bisa turun jika impor gula segera terealisasi. Untuk itu, ia berharap agar pemerintah pusat cepat bertindak guna mengerem laju kenaikan harga gula pasir. Namun sebenarnya para distributor pun bertanya-tanya apakah persediaan gula di pasar internasional mencukupi. Sebab katanya ada perubahan panen di Brasil dan India, sehingga mempengaruhi pasokan
Kepala Badan Pusat Statistik DIY Suharno mengatakan, kenaikan harga gula pasir turut memicu inflasi di Kota Yogyakarta. Dari hasil pemantauan harga-harga, selama Desember 2009 inflasi di Kota Yogyakarta mencapai 0,24 persen atau lebih tinggi dibanding inflasi November 2009 yang mencapai 0,09 persen.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang