Tolak UN, Pelajar "Long March" ke Istana Merdeka Siang ini

Kompas.com - 05/01/2010, 11:06 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Poros pelajar dari Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) dan Pelajar Islam Indonesia (PII) menyatakan bersiap menggelar aksi unjuk rasa menolak pelaksanaan Ujian Nasional (UN) tahun ajaran 2009/2010 di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta Pusat, Selasa (5/1/2010) pukul 14.00.

Demikian hal itu ditegaskan oleh Ketua Umum IPM Denny W Kurniawan kepada Kompas.com di Jakarta, Selasa. Aksi gabungan dua elemen pelajar ini, tutur Denny, akan menurunkan sekitar 500 pelajar.

"Kami hanya mau menyuarakan pendapat kami agar pemerintah taat pada putusan kasasi MA. Sebaliknya, pemerintah tetap menjalankan UN," ujar Denny.

Denny mengatakan, untuk itulah unjuk rasa tersebut dijadikan sebagai aksi dan sikap para pelajar menolak UN. Aksi ini digelar dengan cara long march dari Bundaran HI menuju Istana Merdeka, Jakarta.

"Prinsipnya kami sepakat tidak melarang UN, tetapi meminta ditunda karena standar-standar sebelum pelaksanaan UN itu harus lebih dulu dipenuhi oleh pemerintah, mulai dari kualitas guru, perbaikan sarana dan sarana pendidikan, hingga akses informasi yang luas. Nyatanya, UN tetap berjalan tanpa memenuhi tiga hal itu," ujarnya.

"Ok, kalaupun tetap ingin dijalankan, sebaiknya UN tidak dijadikan satu-satunya standar kelulusan," katanya. 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau